Senin, 22 Februari 2016

DOA BAPA KAMI (DATANGLAH KERAJAAN-MU) Part II

DR. Erastus Sabdono
DOA BAPA KAMI
(DATANGLAH KERAJAAN-MU)
Matius 6:10  datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
DAMAI SEJAHTERA.
Roma 14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Prinsip berikut dari Kerajaan Allah adalah Damai Sejahtera. Damai sejahtera dalam bahasa asli disebut (eirene – Yun) TUHAN Yesus pernah bersabda kepada murid-muridNya di dalam Injil Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.". Damai sejahtera yang diberikan TUHAN adalah damai sejahtera yang melampaui segala akal (Bandingkan Filipi 4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus). Yang tidak dilampaui segala akal tidak dapat dijelaskan, tetapi harus dialami.
Damai TUHAN itu luar biasa; makanya kita tidak boleh damai karena kita mempunyai ini dan itu. Dengan merasa damai oleh harta duniawi, berarti kita memberhalakan sesuatu, sebab orang yang mrncintai dunia berarti menyembah iblis.

Harap dibedakan antara keinginan dan kebutuhan. Punya keinginan tidak salah, tetapi apabila kita berkata “Datanglah KerajaanMu” berarti keinginan kita harus disalibkan lalu kehendak Allah harus disalin kedalam hidup kita. Apabila kita tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, maka hidup kita bisa rusak. Sering kita gagal disini, sebab kita belum sempurna dan masih harus belajar. Ingat, iblis memberi apa yang manusia ingini, tetapi TUHAN memberi yang terbaik. Kita mau pilih yang mana?

Minggu, 21 Februari 2016

DOA BAPA KAMI Part. 1

DR. Erastus Sabdono
DOA BAPA KAMI
(DATANGLAH KERAJAAN-MU)
Matius 6:10  datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Hidup Keagamaan Harus Lebih Benar
Roma 14:17 “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Prinsip dari kerajaan Allah adalah kebenaran. Apakah kebenaran itu? Kata yang digunakan untuk kebenaran disini adalah (dikaiosune – Yun) yang juga digunakan dalam sabda TUHAN Yesus dalam Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Untuk bisa masuk dalam kerajaan itu, TUHAN Yesus mengingatkan agar hidup keagamaan para pengikut-Nya harus lebih benar daripada hidup keagamaan para ahi taurat dan orang farisi.
Kata hidup keagamaan disini sesungguhnya menggunakan kata (dikaiosune – Yun), yang berarti kebenaran. Dikaiosune di sini berarti kebenaran yang bertalian dengan sikap hati dan karakter, berbeda dengan kata Yunani lain yang dalam bahasa Indonesia juga diterjemahkan “kebenaran”, yaitu alethia yang berarti pernyataan yang benar.
Tentu sikap hati akan tampak dari tindakan luar. Yesus berkata hidup keagamaan kita harus lebih daripada mereka. Hidup keagamaan berarti kelakuan yang baik. Ini yang kelihatan, tetapi pasti juga meliputi yang tidak kelihatan sebab itulah asal kelakuan yang baik itu. Sebab, tanpa sikap hati yang benar, bagaimana kita dapat hidup lebih baik daripada para ahli taurat dan orang farisi yang sangat teliti dengan hukum dan peraturan? Jika kita cerdas dalam mengerti kebenaran dan peka terhadap apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa, kita akan melampaui mereka semua, sebab mereka hanya melakukan hukum taurat saja.
Jadi sekali lagi, kita lebih benar dari mereka bukan karena hukum. Hati tidak diwarnai oleh hukum yang berbunyi: “tidak boleh begini... tidak boleh begitu”. Tetapi hati harus diwarnai oleh prinsip-prinsip kebenaran, sehingga dapat membaca hati TUHAN.

Kebenaran tidak dibangun dari hukum dan peraturan, tetapi dari kepekaan mengerti kehendak Allah. Kepekaan timbul dengan MEMBERI DIRI DIKENDALIKAN OLEH ROH KUDUS. Kepekaan timbul dengan memberi diri diperintah oleh TUHAN. “Datanglah KerajaanMu”, pemerintah kerajaan Allah terwujud.

Rabu, 17 Februari 2016

MENJADI PEKERJA YANG TULUS

 Ev. Benyamin Ludji Riwu
MENJADI PEKERJA YANG TULUS
MATIUS 20:1-16
"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.  Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.  Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Perumpamaan ini berbicara soal kerajaan Surga dan pemiliknya yakni TUHAN sendiri.
Firman TUHAN katakan bahwa “pada pagi-pagi benar... kira-kira pukul 9... kira-kira pukul 12 dan pukul 3 petang... kira-kira pukul 5 petang Tuan ini mencari orang-orang yang siap dipakai untuk mengelola kebun-Nya.
Demikian dengan TUHAN Yesus. Sampai saat ini Ia masih terus mencari orang2 yang.mau untuk bekerja pada ladang-Nya yang sudah menguning.
Pertanyaan yang pas untuk masalah ini adalah, “mengapa TUHAN mencari pekerja?” alasannya sangat sederhana! Yakni karena ada banyak orang yang sudah menjadi Kristen namun malas atau keberatan untuk melayani TUHAN, bahkan ada orang yang berstatus sebagai anak TUHAN namun tidak pernah menunjukan sikap atau karakter sebagai anak TUHAN. Karena itulah TUHAN Yesus katakan dalam Yohanes 4:35 bahwa “... ladang-ladang sudah menguning dan matang untuk dituai” namun Matius 9:37 “...Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”.
Kembali pada kasus ini! TUHAN mengatakan bahwa setiap saat Ia mencari orang-orang untuk melayani. Dan setelah diberikan pelayanan, masalahpun terjadi! Dalam ayat diatas Firman TUHAN katakan, pada saat pembagian upah, semua perkerja mendapatkan hasil yang sama yakni 1 dinar sesuai dengan kesepakatan. Namun terjadi pemberontakan didalamnya. Yakni oleh pekerja yang sudah lebih dulu masuk.
Hubungannya dengan pekerjaan pelayanan adalah banyak orang yang sudah lebih dulu melayani Tuhan malah bertindak seolah-olah mereka adalah orang yang paling benar dihadapan TUHAN. Mereka kadang menganggap remeh orang-orang yang baru melayani, atau bahkan mengucilkannya dan menganggap bahwa mereka tidak layak untuk melayani TUHAN. Dalam kehidupan pelayanan terkadang mereka marah bila mereka disandingkan dengan pelayan yang baru atau yang menurut mereka kurang berpengalaman. Tanpa mereka sadari bahwa ini merupakan perangkap ibis untuk menghancurkan mereka.
Motivasi apakah yang kita pakai dalam pekerjaan pelayanan kita? Melayani karena mengasihi TUHAN dengan segenap hati, atau melayani untuk mencari popularitas diri?
Hati-hati dengan motivasi pelayanan kita! Karena Firman TUHAN katakan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Mat.7:21-23).
Melayanilah karena cinta yang tulus kepada TUHAN, bukan karena kita ingin terlihat hebat dihadapan manusia, sebab bila kita hanya ingin terlihat hebat dihadapan manusia, maka kita pasti jatuh, namun apabila kita melayani atas dasar cinta yang tulus kepada TUHAN, maka upah yang terbaik yang akan TUHAN berikan buat kita!
“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”.
1 Tim. 4:12


Rabu, 10 Februari 2016


Dalam kekurangan tidak membuat mereka jenuh untuk berdoa, justru disaat dan keadaan dimana mereka harus didoakan, malah mereka yang mendoakan.
How about us?

PENYERTAAN-NYA MEMBERI OTORITAS


Ada lagu regee yang mengatakan bahwa "Hidup ini memang sudah susah dan jangan dibikin susah lagi..!!!"

Ya.. memang hidup susah, tapi kita smua berjalan bersama Tuhan, masih ada kah yang dapat dikatakan susah?

KITA MAU BELAJAR DARI KISAH YUSUF :
1. TUHAN Memproses Karakter.
Yusuf dibawa ke Mesir ( Mesir=gambaran Dunia) yang keras untuk dilihat Tuhan apakah perangainya (Yusuf) berubah atau menjadi pribadi yang mengenal Tuhan. melalui proses yang tidak menyenangkan akan menghasilkan kedewasaan Rohani.

2. TUHAN Memproses Moral
Memalui sebuah kedudukan dan keberhasilan, Tuhan ingin melihat seberapa kuat seseorang dapat mempertahankan moralnya dengan baik.
Yusuf, ketika mendapat ujian berupa godaan keduidukan, harta, dan Wanita (Tante Potifar.. hehe..). namun karena Yusuf memiliki karakter yang baik, ia bisa lulus dari godaan TANTE POT. walaupun ia harus masuk penjara..

3.TUHAN Memproses Mental.
Kalau seseorang tidak memiliki mental yang baik dan kuat maka ia pasti memberontak. Yusuf walau sudah menunjukan kesetiaan untuk tidak berbuat dosa, ia masih difitnah dan berujung masuk penjara. tapi inilah jalan untuk mendapatkan penyertaan dan otoritas yang lebih besar dari Tuhan. sama seperti setiap orang Kristen. Tuhan Yesus berkata "siapa yang mengikut Aku, dia harus siap untuk memikul salib!" apa artinya?
maksudnya ialah Kristus adalah kebenaran.. siapa yang mau mengikuti kebenaran pasti akan mendapat tantangan dan masalah, namun apabila ia kuat maka sesuatu yang besar yang telah Tuhan sediakan untuk dia pasti akan diperolehnya...!!!
sama seperti Yusuf.. untuk kebenaran ia harus masuk kedalam penjara, namun karena ketekunannya kepada Tuhan, apa yang dia peroleh??
ia mendapat kedudukan yang lebih bsar dari sebelumnya, yaitu menjadi ornag kedua di Mesir... demikian lah kita sebagai anak Tuhan, harus kuat dalam menghadapi tantangan apapun, maka Tuhan akan slalu memberkati kita....
Amin.

Tuhan Yesus Memberkati...

Selasa, 09 Februari 2016

Kuasa Hukum Taurat

Surat Roma 7:7-8.

Berbicara mengenai hukum, saya rasa kita semua sudah memiliki bayangan tentang apa itu hukum. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata hukum ini berbicara mengenai :
1)      peraturan atau adat yg secara resmi dianggap mengikat, yg dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah;
2)      undang-undang, peraturan, dsb untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat;
3)      patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam dsb) yg tertentu;
4)      keputusan (pertimbangan) yg ditetapkan oleh hakim (dl pengadilan); vonis;
Dari keempat pengertian hukum ini, saya simpulkan bahwa hukum itu ialah sarana yang dipakai oleh pemerintah untuk mengadili atau menghakimi seorang yang dinyatakan bersalah, sesuai dengan kebenarannya. Dari pengertian ini, menyatakan bahwa begitu luar biasanya hukum, tetapi sayang saudaraku, pada kenyataan sekarang ini, banyak orang yang tidak menuruti hukum, mengapa? Ini semua terjadi, karena hukum didunia saat ini sudah berjalan dengan tidak semestinya lagi. Banyak orang terutama pejabat-pejabat pemerintah yang jatuh dalam dosa korupsi, dan berbagai macam dosa yang lain, mengapa masih banyak diantara mereka yang tidak mendapat hukuman? Bahkan pada peristiwa yang lalu, yang juga tidak asing lagi ditelinga kita, bahwa ada orang yang ketika dipenjarakan, ia malah dapat dengan bebasnya untuk keluar masuk penjara, bahkan ia bisa pergi jalan-jalan dibeberapa daerah yang ia ingin pergi. Kemudian beranjak dari situ, terciptalah sebuah lagu mengenai dirinya, sebuah lagu yang cukup populer pasa saat itu, lagu itu berjudul “Andai Ku Gayus Tambunan”. Dalam lagu ini ada kalimat yang menyatakan bahwa “Hukuman bisa dibeli”. Sekarang saya mau bertanya kepada saudara sekalian, menurut saudara apakah hukuman itu dapat dibeli? Jawabannya Tidak!, namun orang-orang yang memegang hukumlah yang membuatnya dapat dibeli. Dengan kata lain, hukum itu baik, namun akan menjadi tidak baik jika hukum itu dikuasai oleh orang-orang yang tidak baik.
Ada sebuah Ilustrasi yang menceritakan mengenai hukum yang tidak benar. Disebuah kota yang berada di bagian Timur Indonesia, terjadi penghakiman disebuah kantor pengadilan negeri terhadap seorang yang kedapatan mencuri sapi 200 (dua ratus) ekor sekaligus. Ketika diadili, sang hakimpun memberikan pertanyaan kepada sipencuri, yang kebetulan membawa pengacaranya disitu, demikian : “hukuman apa yang anda mau? Menggantikan sapi yang telah kamu curi beserta bunganya dengan “Dua ratus lima puluh ekor sapi” atau dengan menjalani hukuman kurungan penjara selama dua puluh tahun?. Tanpa disadari, ternyata sang pengacara dari pencuri itu sedangn merekam pembicaraan sang hakim dalam sebuah kaset recorder, lalu ia menyarankan kepada Kliennya (sipencuri) untuk menyanggupi tawaran yang kedua.
Setelah hari yang ditentukan yaitu pada pengadilan yang kedua, dimana saat yang menegangkan bagi setiap hadirin yang hadir diruang sidang tersebut untuk menanti si Pencuri dengan denda yang disanggupinya itu. Ketika pencuri itu dan pengacaranya masuk, betapa terkejutnya semua orang yang ada disitu ketika melihat bahwa yang dibawa oleh sipencuri ialah potongan ekor sapi berjumlah 250. Kemudian sang hakim pun bertanya “ lelucon apa yang hendak kalian perbuat? Kemudian sang pengacara pun memutar kembali hasil rekaman pada sidang sebelumnya. Sang hakimpun merasa terpojok, namun karena keputusan yang sudah diambil dan yang telah disepakati bersama, maka dengan berat hati sipencuripun dibebaskan dari hukumannya.
Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan, dari Ilustrasi tadi seorang yang memegang hukum (Hakim) adalah orang yang sangat berperan penting dalam sebuah penghakiman. Dari ilustrasi ini,  kita dapat melihat bahwa dalam perkataanpun seorang hakim harus sangat berhati-hati. Apakah hukum itu seperti Ilustrasi tadi? Tentunya tidak!
Sekarang kita kembali pada judul kita tadi, yaitu “Kuasa Hukum Taurat”. Apa saja yang menjadi akibat dari kuasa hukum taurat ini?
Didalam ayat yang telah kita baca bersama tadi, saya menemukan ada 2 akibat yang disebabkan oleh Hukum Taurat.
GARIS BESAR :
        I.            HUKUM TAURAT MEMPERKENALKAN DOSA (ay. 7a)
Berbeda dengan hukum yang berlaku didunia ini, hukum taurat memiliki kuasa yang sangat dasyat, mengapa? Karena pada dasarnya hukum taurat adalah hukum yang diberikan langsung oleh Tuhan kepada bangsa Israel, melalui Musa hamba-Nya.
Hukum inilah yang dipakai oleh orang Yahudi sebagai standar hidup mereka sampai sekarang. Bahkan hukum ini juga sudah menjadi bagian didalam hukum negara mereka, bahwa setiap orang yang melakukan kesalahan akan dihukum berdasarkan hukum taurat. Kita tau bersama, bahwa pada jaman Tuhan Yesus, ada seorang perempuan yang kedapatan berzinah, lalu orang-orang melempari dia dengan batu, kemudian membawanya kehadapan Tuhan Yesus dengan tujuan untuk mencobai Dia, namun dari peristiwa itu, Yesus mengajarkan hukum kasih kepada mereka, dimana dengan Tuhan Yesus meberikan sebuah penyataan kepada mereka bahwa barang siapa yang tidak melakukan dosa, baiklah ia yang terlebih dahulu melempari perempuan itu dengan batu. Namun apa yang terjadi saudaraku? Tidak ada seorangpun diantara mereka yang melempari perempuan itu dengan batu. Ini membuktikan bahwa mereka yaitu orang-orang farisi dan ahli taurat ini juga banyak melakukan hal-hal yang menentang hukum taurat. Nah kalau sudah begitu saudaraku, apa lagi guna hukum taurat? Tidak ada lagi!
Menurut orang Yahudi, dengan melakukan hukum taurat, maka orang akan diselamatkan! Apakah demikian? Kalau kita menyetujui hal ini, berarti kita telah meragukan Firman Tuhan yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Galatia bahwa orang dapat diselamatkan bukan dengan melaukan hukum taurat, tetapi Oleh karena iman kepada Yesus Kristus!
Karena itu saudaraku, kita sebagai anak Tuhan harus yakin dan percaya bahwa keselamatan kita bukan karena kita melakukan hukum taurat atau melakukan yang lainnya, tetapi, keselamatan kita hanya diperoleh dengan pengenalan yang benar akan Dia dan memiliki iman percaya terhadap Dia yaitu Tuhan Yesus Kristus, yang sudah rela Mati untuk menebus dosa-dosa kita, yang telah bangkit dan naik ke Surga untuk mempersiapkan tempat bagi kita orang-orang percaya. Katakan Amin. Jadi saudaraku, kita harus tahu bahwa kita ini hidup bukan lagi dibawah hukum taurat, tetapi kita hidup dibawah anugrah Allah, karena Rasul Paulus katakan kepada jemaat di Galatia (Galatia 3: 10)  bahwa orang yang hidupnya dibawah hukum Taurat sama dengan ia hidup dibawah kutuk, sebab ada tertulis, bahwa terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala hukum Taurat! Ini berarti ketika orang itu melanggar hukum taurat, maka ia adalah orang yang terkutuk. Saya yakin bahwa kita yang ada pada pagi hari ini adalah orang-orang yang telah bebas dari kutuk Hukum taurat, Amin?. Katakan kepada orang disekeliling anda ”sekarang saya sudah dimerdekakan oleh Kristus!”.
      II.            HUKUM TAURAT MENGHIDUPKAN DOSA (ay. 8b)
Yang kedua adalah ”Hukum Taurat Menghidupkan Dosa”. Kita mau membaca ayat yang ke 8b bersama-sama. Dalam ayat ini, Rasul Paulus menulis bahwa  “Sebab Tanpa Hukum Taurat, dosa mati”. Ini berarti dengan adanya hukum taurat dosa itu hidup saudaraku, sehingga tidak salah kalau Rasul Paulus mengatakan pada ayat ke 7b bahwa “karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum taurat tidak mengatakan : “Jangan Mengingini!”. Berarti dengan adanya hukum Taurat Paulus mengetahui apa itu keinginan.
Sekarang saudaraku, kalau kita sudah tahu bahwa hukum taurat itu menghidupkan dosa, maka apa yang harus kita lakukan? Kembali lagi saya tegaskan kepada kita semua, yaitu dengan kita percaya sepenuhnya kepada Yesus! Bukan setengah-setengah saudaraku.
Betapa luar biasanya Tuhan kita ini saudaraku. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita saat ini, kalau Tuhan itu tidak datang untuk menebus dosa-dosa kita. Kalau sampi Tuhan tidak datang, maka kita semua adalah orang-orang yang hidupnya selalu diintimidasi oleh kuasa Kutuk Hukum taurat. Tetapi oleh karena kemurahannya Ia datang kedunia, mengosongkan dirinya dan mengambil rupa seorang hamba. Mengosongkan diri ini sama dengan halnya kalau seorang Manusia meninggalkan kemanusiaannya lalu berubah menjadi seperti seekor binatang! Tetapi Ia rela saudaraku. Untuk siapa Dia melakukan ini semua? Semua ini dilakukan hanya untuk manusia, bukan untuk ciptaan-Nya yang lain!. Dengan kedatanganNya, dan dengan kerelaan hatiNya untuk mati diatas kayu salib, dengan tujuan hanya agar kita dibebaskan dari Kutuk Hukum Taurat! Sebab ada tertulis dalam Galatia 3:13 ” Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!". Didalam ayat ini menyatakan bahwa Yesus sudah menanggung semua kutuk kita, oleh karena itu tidak ada kutuk yang berkuasa lagi atas hidup kita.
Saudaraku, kalau hukum taurat sudah tidak berkuasa lagi atas kita, maka dosa juga tidak berkuasa lagi atas hidup kita amin?. Dengan kematian Tuhan Yesus Kristus, Ia sudah menghapus segala yang mengikat kita, yaitu, kutuk hukum taurat ataupun dosa-dosa kita, sebab ada tertulis dalam surat Paulus kepada jemaat Roma, yang terdapat dalam Roma 8:2 “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.
Jadi dengan Pengorbanan Kristus diatas kayu salib, ada Roh yang diberikan kepada kita semua, yaitu Roh Kudus yang telah memerdekakan kita dari kuasa hukum dosa dan hukum maut.



KESIMPULAN
Jadi saudaraku, kita sebagai orang percaya, kita perlu tahu, bahwa kita adalah orang-orang yang telah dimerdekakan oleh Kristus Yesus dari kuasa hukum Taurat, dengan Ia mengorbankan diriNya diatas kayu salib.
Kuasa hukum taurat yang memperkenalkan dosa kepada manusia, dan yang telah menghidupkan dosa didalamnya, sekarang sudah tidak ada lagi. Itu semua karena kasih Kristus kepada kita semua.

Karena itu saya minta untuk kita katakan sekali lagi “sekarang saya sudah dimerdekakan oleh Kristus!”. Amin.

Jumat, 05 Februari 2016

Perbedaan Manusia Lama dan Manusia Baru

Istilah “manusia lama” kita temukan dalam Roma 6:6; Kol. 3:9; Efe. 4:22, dan “istilah manusia baru dalam Efs. 2:15, 4:24; Kol. 3:10. Dalam ayat-ayat tersebut Paulus mengkontraskan antara sifat manusia lama dan sifat manusia baru serta perbedaan status dan keaadaan manusia lama dan manusia baru. Jadi jelas sebetulnya bahwa manusia lama dan manusia baru merupakan aspek yang dapat dibedakan dalam kehidupan orang percaya. Mungkin ada yang berpikir bahwa orang percaya berada dalam kedua natur ini, yaitu sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru pada saat bersamaan. Di satu sisi orang pecaya sebagai manusia lama yang telah dibenarkan dan dikuduskan, namun di sisi lain adalah juga manusia lama yang dalam eksistensinya masih bisa melakukan dosa. Paulus sebetulnya tidak mengajarkan konsep seperti itu, dalam Roma 6:6-7 dituliskan bahwa “manusia lama kita telah turut disalibkan dan tubuh dosa telah hilang kuasanya, agar orang percaya tidak menghambakan diri lagi kepada dosa. Karena orang yang telah diselamatkan telah mati bagi dosa dan telah bebas dari dosa.” Artinya orang Kristen hanya diberikan satu “pilihan” dan satu hak sebagai orang percaya untuk hidup bagi kebenaran saja dan bukan hidup bagi dosa, dengan kata lain orang Kristen harus hidup sebagai manusia baru dan mematikan manusia lamanya.
John Calvin mengatakan “Jika kita telah benar-benar menerima bagian di dalam  kematian kristus, manusia lama kita telah disalibkan oleh kuasa-Nya, dan tubuh dosa telah binasa dan kerusakan pada manusia lama tidak berperan lagi. Jika kita telah menerima kebangkitan Kristus, olehnya kita telah dibangkitkan kepada hidup yang baru yang selaras dengan kebenaran Allah (sudah disimpulkan).”[1]   Dalam 2 Kor 5:7 juga menegaskan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang.” Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang percaya tidak berada dalam dua status, sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru, statusnya adalah benar-benar manusia baru. John Murray (Principle of Conduct) mengatakan bahwa manusia lama adalah manusia yang belum lahir baru, manusia baru sudah lahir baru, sehingga tidak mungkin lagi menyebut orang percaya sebagai manusia lama dan manusia baru. Selain itu Anthony Hoekema (Saved by Grace) menekankan bahwa dengan lahir baru orang percaya telah menerima natur baru sehingga dimampukan untuk hidup menyenangkan Allah. Memang orang percaya masih memiliki natur keberdosaan dimana ia tetap bergumul dengannya dan berusaha untuk menghidupi manusia barunya, namun tidak lagi dosebut manusia lama atau orang lama. Manusia lama secara total dikuasai oleh dosa, tetapi manusia baru  seutuhnya sudah berada dalam pimpinan Roh Kudus sekalipun belum dalam kesempurnaan yang sepenuhnya. Dalam statusnya yang baru orang Kristen bukan lagi sebagai manusia lama, tetapi sebagai manusia baru yang sedang diperbaui terus menerus supaya menjadi semakin serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Orang Kristen adalah manusia baru tetapi belum sempurna, kesempurnaan itu hanya akan terjadi dalam pemuliaan yang akan dikaruniakan dalam kedatangan Kristus yang kedua (Roma 8:30).
TANTANGAN PERUBAHAN
Mungkin banyak orang yang Kristen yang bertanya, apakah sesudah Kristen Allah menghendaki perubahan total? Tentu saja jawabannya adalah ya, namun apakah mungkin seseorang dapat berubah secara total? Jawabannya juga adalah ya! Seperti tertulis dalam Efesus 4:22-24: “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Proses inilah yang kita sebut sebagai “progressive sanctification”, dimana secara bertahap dalam seluruh aspek kehidupan seorang Kristen mengalami pertumbuhan secara konstan dan konsisten (secara pasti semakin baik). Perubahan ini tidak dapat dikerjakan dengan usaha orang Kristen itu sendiri, karena sesungguhnya tidak seorang pun sanggup memenuhi tuntutan kebenaran Allah dengan usahanya sendiri. Hanya dengan pertolongan Roh Kudus yang sanggup memampukan orang Kristen untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya (2 Kor 3:8). Namun mengalami perubahan ini tentu bukanlah sesuatu yang dapat terjadi secara instan dan mudah, kebanyakan orang tidak mampu berubah secara total dalam hidupnya. Mungkin dengan kata lain, kebanyakan orang tidak bersedia membayar harga perubahan itu. Ada beberapa faktor penyebabnya: pertama, karena perubahan itu seringkali tidak mengenakkan dan tentu sangat tidak nyaman. Kedua, perubahan adalah sebuah proses yang penuh pengorbanan, untuk itu diperlukan ketabahan, ketekunan dan kesabaran dan memakan waktu. Terkadang baru bertahun-tahun kemudian kita bisa mendapatkan hasil perubahan yang kita inginkan. Ketiga, perubahan bisa menjadi sumber konflik baru bagi diri sendiri maupun dengan orang-orang disekitar kita.
Perubahan selalu mengakibatkan krisis (disequilibrium) tetapi jika diteruskan dengan kesungguhan dan ketaatan kepada Allah akan memberikan hasil yang nyata. Menjadi manusia baru ditandai oleh proses pertumbuhan yang jelas pada perubahan sikap dan tingkahlaku sehari-hari. Meski banyak manusia yang tidak menyukai perubahan,  namun perubahan adalah satu-satunya penentu dan  sumber kemajuan kerohanian dan kepribadian seseorang. Perubahan seperti apa yang bisa memberikan kemajuan yg berarti? Yang jelas, perubahan yang dimulai dari diri sendiri, dengan membuat langkah-langkah perubahan (action) yang jelas dan dengan kemauan yang kuat dan tak terbendung.  Alkitab mengajarkan tentang perubahan kepada kita dalam Roma 12:2; Filipi 4:8; Matius 7:12, yang mencakup perubahan pada: (1) Cara Berpikir & Keyakinan, dengan mengubah cara berpikir akan mengubah keyakinan, oleh karena itu setiap manusia baru harus memikirkan segala sesuatu dalam persfektif yang baik dan benar seperti tertulis dalam Filipi 4:8 dan Roma 12:2; (2) Perubahan pada kata-kata, perubahan pada cara berbicara dan berkata-kata dapat mengubah banyak hal dalam relasi seseorang dengan yang lain. Kata-kata yang lemah lembut, kata-kata yang positif dan membangun serta menguatkan sangat diperlukan oleh setiap orang dan sangat memberkati orang lain; (3) Perubahan pada sikap dan tingkah laku, yang akan mennghasilkan perubahan pada hidup. Ssetiap orang sering tanpa sadar memilih pola tingkah laku tertentu dan melakukan tindakan-tindakan tertentu sebagai suatu kebiasaan[2].

Tiga Karakter Manusia Baru Dalam Kristus (Efesus 4:2)
     Rendah Hati (Efesus 4:2)
Manusia baru memiliki sifat ilahi seperti Kristus yaitu rendah hati. Kata rendah hati ini seperti yang tertulis dalam Efesus 4: 2. Paulus menasehatkan jemaat Efesus untuk rendah hati selalu. Dalam The Thelogical Dictionary of The New Testament kata rendah hati mengandung makna menundukkan diri sendiri kepada orang lain dan menjadi lebih peduli terhadap kesejahteraan mereka daripada diri sendiri. Dalam bahasa psikologi dikenal istilah altruistik atau lebih umum, sifat kepribadian yang tidak egois.Yesus pernah menunjukkan sifat ini ketika Dia membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai teladan seorang pemimpin hamba (servant leader).
Lemah lembut (Efesus 4:2)
Kata lemah lembut ini juga terdapat dalam Efesus 4:2 yang makna teologisnya dari teks Yunani adalah sikap sederhana dan lemah lembut yang terungkap di dalam ketaatan yang penuh, kesabaran terhadap serangan, bebas dari kebencian dan keinginan untuk balas dendam. Salah satu perkataan Tuhan Yesus di kayu salib mendefinisikan dengan tepat kata lemah lembut ini, "Bapa, Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan".
Sabar (Efesus 4:2)
Kata sabar dalam Alkitab bahasa Inggris yaitu "longsuffering" maknanya "sabar menderita". Dalam teks Yunani kata ini mengacu kepada daya tahan yang lama dihadapan amukan oposisi dan amarah dari orang lain.Ingat bagaimana respon Yesus ketika disiksa dalam perjalanan memikul salib menuju bukit Golgota seperti yang digambarkan dalam film The Passion Of The Christ.[3]


KESIMPULAN
Siapakah Manusia Baru Dalam Kristus?
Menjadi manusia baru adalah proses kerja wilayah batin. Menjadi manusia baru itu bukan operasi wilayah fisik. Walaupun nanti setelah seseorang diubahkan menjadi baru dalam wilayah batinnya, bisa akan memunculkan bukti-bukti perubahan penampilan secara fisik. Metodelogi menjadikan manusia baru dalam Kristus dimulai dari dalam, bukan dari luar. Ini dimulai dengan mendiagnosa "penyakit" manusia lama dari dalam, dengan kemauan untuk menanggalkan jubah manusia lama (Efesus 4:22). Jubah manusia lama itu yang dulu "dijahit" dengan benang-benang hawa nafsu, dusta, kepahitan, fitnah dll. Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia lama itu adalah manusia tanpa integritas.

> DOKTRIN ANTROPOLOGI MENURUT SURAT I YOHANES
     
     MANUSIA BARU DAN MANUSIA LAMA

     Hidup dalam Terang Allah
Dalam surat ini diterangkan bahwa semua manusia pada dasarnya berada dalam kegelapan apalagi kalau seseorang itu berada diluar Kristus. Dalam pasal ini juga diterangkan bahwa jika ada orang yang mengatakan bahwa ia ada dalam Kristus namun dalam praktek hidup ia masih dalam kegelapan, maka orang ini dinyatakan berdusta.
Menurut I Yohanes ini : Seseorang dikatakan lahir baru apabila ia hidup didalam Kristus dan dalam praktek hidup, ia berada dalam terang, maka ia akan beroleh persekutuan dengan orang lain, karena darah Kristus, yang telah menyucikan dia dari segala dosanya.
Manusia Makluk Sosial
Dalam Pasal 2 ayat 9-12 dikatakan bahwa seseorang akan dikatakan lahir baru apabila ia mengasihi saudaranya ataupun kerabatnya, karena dikatakan dalam ayat ini, orang yang mengatakan bahwa hidupnya berada dalam Kristus namun ia membenci saudaranya, maka ia sama halnya dengan berada dalam kegelapan.
Manusia tidak luput dari yang namanya masalah, dan manusia juga membutuhkan orang lain untun dapat menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu ayat ini mengatakan bahwa orang yang membenci saudaranya atau sesamanya ia berada dalam kegelapan, karena manusia itu dicipakan bukan hanya satu orang.
Dalam pasal 3:11-18, dikatakan bahwa kasih kepada saudara sebagai tanda hidup baru. Ini berarti, ketika kita mengasihi saudara kita, maka kita juga mengasihi Allah. Firman Tuhan katakan dalam Injil Matius 6:14-15 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Ini adalah bukti bahwa ketika kita mengaihi saudara kita maka Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan apabila dosa kita diampuni oleh Bapa, maka kita sudah dikuduskan bersama Kristus, dan kita menyandang status sebagai anak-anak Allah, ketika kita menyandang status ini, maka kita dinyatakan sebagai “Orang yang lahir baru”.
SERUPA DAN SEGAMBAR DENGAN ALLAH
Dalam pasal 3:2  “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”.
Disini dikatakan bahwa apabila sudah mencapai waktu-Nya Tuhan, maka kita akan menjadi seperti Dia. Ketika Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya dalam dunia ini, maka Ia akan mengangkat orang-orang kudus-Nya bersama-sama dengan Dia diawan-awan, dan orang-orang kudu-Nya akan menjadi sama dengan Dia. Sama dalam arti ialah memiliki tubuh kemuliaan sama seperti Dia. 


[1]               Calvin, Johanes., Institutio. (BPK.Gunung Mulia, Jakarta :  cetakan keempat-2003) Hal. 90

[2]           Siahaan Robert.R. Pdt. Soli Deo Gloria. [Tabloid Reformata, November 2010 ].

[3]               http://wahyutauda.blogspot.com/