Jumat, 05 Februari 2016

Perbedaan Manusia Lama dan Manusia Baru

Istilah “manusia lama” kita temukan dalam Roma 6:6; Kol. 3:9; Efe. 4:22, dan “istilah manusia baru dalam Efs. 2:15, 4:24; Kol. 3:10. Dalam ayat-ayat tersebut Paulus mengkontraskan antara sifat manusia lama dan sifat manusia baru serta perbedaan status dan keaadaan manusia lama dan manusia baru. Jadi jelas sebetulnya bahwa manusia lama dan manusia baru merupakan aspek yang dapat dibedakan dalam kehidupan orang percaya. Mungkin ada yang berpikir bahwa orang percaya berada dalam kedua natur ini, yaitu sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru pada saat bersamaan. Di satu sisi orang pecaya sebagai manusia lama yang telah dibenarkan dan dikuduskan, namun di sisi lain adalah juga manusia lama yang dalam eksistensinya masih bisa melakukan dosa. Paulus sebetulnya tidak mengajarkan konsep seperti itu, dalam Roma 6:6-7 dituliskan bahwa “manusia lama kita telah turut disalibkan dan tubuh dosa telah hilang kuasanya, agar orang percaya tidak menghambakan diri lagi kepada dosa. Karena orang yang telah diselamatkan telah mati bagi dosa dan telah bebas dari dosa.” Artinya orang Kristen hanya diberikan satu “pilihan” dan satu hak sebagai orang percaya untuk hidup bagi kebenaran saja dan bukan hidup bagi dosa, dengan kata lain orang Kristen harus hidup sebagai manusia baru dan mematikan manusia lamanya.
John Calvin mengatakan “Jika kita telah benar-benar menerima bagian di dalam  kematian kristus, manusia lama kita telah disalibkan oleh kuasa-Nya, dan tubuh dosa telah binasa dan kerusakan pada manusia lama tidak berperan lagi. Jika kita telah menerima kebangkitan Kristus, olehnya kita telah dibangkitkan kepada hidup yang baru yang selaras dengan kebenaran Allah (sudah disimpulkan).”[1]   Dalam 2 Kor 5:7 juga menegaskan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang.” Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang percaya tidak berada dalam dua status, sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru, statusnya adalah benar-benar manusia baru. John Murray (Principle of Conduct) mengatakan bahwa manusia lama adalah manusia yang belum lahir baru, manusia baru sudah lahir baru, sehingga tidak mungkin lagi menyebut orang percaya sebagai manusia lama dan manusia baru. Selain itu Anthony Hoekema (Saved by Grace) menekankan bahwa dengan lahir baru orang percaya telah menerima natur baru sehingga dimampukan untuk hidup menyenangkan Allah. Memang orang percaya masih memiliki natur keberdosaan dimana ia tetap bergumul dengannya dan berusaha untuk menghidupi manusia barunya, namun tidak lagi dosebut manusia lama atau orang lama. Manusia lama secara total dikuasai oleh dosa, tetapi manusia baru  seutuhnya sudah berada dalam pimpinan Roh Kudus sekalipun belum dalam kesempurnaan yang sepenuhnya. Dalam statusnya yang baru orang Kristen bukan lagi sebagai manusia lama, tetapi sebagai manusia baru yang sedang diperbaui terus menerus supaya menjadi semakin serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Orang Kristen adalah manusia baru tetapi belum sempurna, kesempurnaan itu hanya akan terjadi dalam pemuliaan yang akan dikaruniakan dalam kedatangan Kristus yang kedua (Roma 8:30).
TANTANGAN PERUBAHAN
Mungkin banyak orang yang Kristen yang bertanya, apakah sesudah Kristen Allah menghendaki perubahan total? Tentu saja jawabannya adalah ya, namun apakah mungkin seseorang dapat berubah secara total? Jawabannya juga adalah ya! Seperti tertulis dalam Efesus 4:22-24: “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Proses inilah yang kita sebut sebagai “progressive sanctification”, dimana secara bertahap dalam seluruh aspek kehidupan seorang Kristen mengalami pertumbuhan secara konstan dan konsisten (secara pasti semakin baik). Perubahan ini tidak dapat dikerjakan dengan usaha orang Kristen itu sendiri, karena sesungguhnya tidak seorang pun sanggup memenuhi tuntutan kebenaran Allah dengan usahanya sendiri. Hanya dengan pertolongan Roh Kudus yang sanggup memampukan orang Kristen untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya (2 Kor 3:8). Namun mengalami perubahan ini tentu bukanlah sesuatu yang dapat terjadi secara instan dan mudah, kebanyakan orang tidak mampu berubah secara total dalam hidupnya. Mungkin dengan kata lain, kebanyakan orang tidak bersedia membayar harga perubahan itu. Ada beberapa faktor penyebabnya: pertama, karena perubahan itu seringkali tidak mengenakkan dan tentu sangat tidak nyaman. Kedua, perubahan adalah sebuah proses yang penuh pengorbanan, untuk itu diperlukan ketabahan, ketekunan dan kesabaran dan memakan waktu. Terkadang baru bertahun-tahun kemudian kita bisa mendapatkan hasil perubahan yang kita inginkan. Ketiga, perubahan bisa menjadi sumber konflik baru bagi diri sendiri maupun dengan orang-orang disekitar kita.
Perubahan selalu mengakibatkan krisis (disequilibrium) tetapi jika diteruskan dengan kesungguhan dan ketaatan kepada Allah akan memberikan hasil yang nyata. Menjadi manusia baru ditandai oleh proses pertumbuhan yang jelas pada perubahan sikap dan tingkahlaku sehari-hari. Meski banyak manusia yang tidak menyukai perubahan,  namun perubahan adalah satu-satunya penentu dan  sumber kemajuan kerohanian dan kepribadian seseorang. Perubahan seperti apa yang bisa memberikan kemajuan yg berarti? Yang jelas, perubahan yang dimulai dari diri sendiri, dengan membuat langkah-langkah perubahan (action) yang jelas dan dengan kemauan yang kuat dan tak terbendung.  Alkitab mengajarkan tentang perubahan kepada kita dalam Roma 12:2; Filipi 4:8; Matius 7:12, yang mencakup perubahan pada: (1) Cara Berpikir & Keyakinan, dengan mengubah cara berpikir akan mengubah keyakinan, oleh karena itu setiap manusia baru harus memikirkan segala sesuatu dalam persfektif yang baik dan benar seperti tertulis dalam Filipi 4:8 dan Roma 12:2; (2) Perubahan pada kata-kata, perubahan pada cara berbicara dan berkata-kata dapat mengubah banyak hal dalam relasi seseorang dengan yang lain. Kata-kata yang lemah lembut, kata-kata yang positif dan membangun serta menguatkan sangat diperlukan oleh setiap orang dan sangat memberkati orang lain; (3) Perubahan pada sikap dan tingkah laku, yang akan mennghasilkan perubahan pada hidup. Ssetiap orang sering tanpa sadar memilih pola tingkah laku tertentu dan melakukan tindakan-tindakan tertentu sebagai suatu kebiasaan[2].

Tiga Karakter Manusia Baru Dalam Kristus (Efesus 4:2)
     Rendah Hati (Efesus 4:2)
Manusia baru memiliki sifat ilahi seperti Kristus yaitu rendah hati. Kata rendah hati ini seperti yang tertulis dalam Efesus 4: 2. Paulus menasehatkan jemaat Efesus untuk rendah hati selalu. Dalam The Thelogical Dictionary of The New Testament kata rendah hati mengandung makna menundukkan diri sendiri kepada orang lain dan menjadi lebih peduli terhadap kesejahteraan mereka daripada diri sendiri. Dalam bahasa psikologi dikenal istilah altruistik atau lebih umum, sifat kepribadian yang tidak egois.Yesus pernah menunjukkan sifat ini ketika Dia membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai teladan seorang pemimpin hamba (servant leader).
Lemah lembut (Efesus 4:2)
Kata lemah lembut ini juga terdapat dalam Efesus 4:2 yang makna teologisnya dari teks Yunani adalah sikap sederhana dan lemah lembut yang terungkap di dalam ketaatan yang penuh, kesabaran terhadap serangan, bebas dari kebencian dan keinginan untuk balas dendam. Salah satu perkataan Tuhan Yesus di kayu salib mendefinisikan dengan tepat kata lemah lembut ini, "Bapa, Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan".
Sabar (Efesus 4:2)
Kata sabar dalam Alkitab bahasa Inggris yaitu "longsuffering" maknanya "sabar menderita". Dalam teks Yunani kata ini mengacu kepada daya tahan yang lama dihadapan amukan oposisi dan amarah dari orang lain.Ingat bagaimana respon Yesus ketika disiksa dalam perjalanan memikul salib menuju bukit Golgota seperti yang digambarkan dalam film The Passion Of The Christ.[3]


KESIMPULAN
Siapakah Manusia Baru Dalam Kristus?
Menjadi manusia baru adalah proses kerja wilayah batin. Menjadi manusia baru itu bukan operasi wilayah fisik. Walaupun nanti setelah seseorang diubahkan menjadi baru dalam wilayah batinnya, bisa akan memunculkan bukti-bukti perubahan penampilan secara fisik. Metodelogi menjadikan manusia baru dalam Kristus dimulai dari dalam, bukan dari luar. Ini dimulai dengan mendiagnosa "penyakit" manusia lama dari dalam, dengan kemauan untuk menanggalkan jubah manusia lama (Efesus 4:22). Jubah manusia lama itu yang dulu "dijahit" dengan benang-benang hawa nafsu, dusta, kepahitan, fitnah dll. Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia lama itu adalah manusia tanpa integritas.

> DOKTRIN ANTROPOLOGI MENURUT SURAT I YOHANES
     
     MANUSIA BARU DAN MANUSIA LAMA

     Hidup dalam Terang Allah
Dalam surat ini diterangkan bahwa semua manusia pada dasarnya berada dalam kegelapan apalagi kalau seseorang itu berada diluar Kristus. Dalam pasal ini juga diterangkan bahwa jika ada orang yang mengatakan bahwa ia ada dalam Kristus namun dalam praktek hidup ia masih dalam kegelapan, maka orang ini dinyatakan berdusta.
Menurut I Yohanes ini : Seseorang dikatakan lahir baru apabila ia hidup didalam Kristus dan dalam praktek hidup, ia berada dalam terang, maka ia akan beroleh persekutuan dengan orang lain, karena darah Kristus, yang telah menyucikan dia dari segala dosanya.
Manusia Makluk Sosial
Dalam Pasal 2 ayat 9-12 dikatakan bahwa seseorang akan dikatakan lahir baru apabila ia mengasihi saudaranya ataupun kerabatnya, karena dikatakan dalam ayat ini, orang yang mengatakan bahwa hidupnya berada dalam Kristus namun ia membenci saudaranya, maka ia sama halnya dengan berada dalam kegelapan.
Manusia tidak luput dari yang namanya masalah, dan manusia juga membutuhkan orang lain untun dapat menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu ayat ini mengatakan bahwa orang yang membenci saudaranya atau sesamanya ia berada dalam kegelapan, karena manusia itu dicipakan bukan hanya satu orang.
Dalam pasal 3:11-18, dikatakan bahwa kasih kepada saudara sebagai tanda hidup baru. Ini berarti, ketika kita mengasihi saudara kita, maka kita juga mengasihi Allah. Firman Tuhan katakan dalam Injil Matius 6:14-15 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Ini adalah bukti bahwa ketika kita mengaihi saudara kita maka Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan apabila dosa kita diampuni oleh Bapa, maka kita sudah dikuduskan bersama Kristus, dan kita menyandang status sebagai anak-anak Allah, ketika kita menyandang status ini, maka kita dinyatakan sebagai “Orang yang lahir baru”.
SERUPA DAN SEGAMBAR DENGAN ALLAH
Dalam pasal 3:2  “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”.
Disini dikatakan bahwa apabila sudah mencapai waktu-Nya Tuhan, maka kita akan menjadi seperti Dia. Ketika Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya dalam dunia ini, maka Ia akan mengangkat orang-orang kudus-Nya bersama-sama dengan Dia diawan-awan, dan orang-orang kudu-Nya akan menjadi sama dengan Dia. Sama dalam arti ialah memiliki tubuh kemuliaan sama seperti Dia. 


[1]               Calvin, Johanes., Institutio. (BPK.Gunung Mulia, Jakarta :  cetakan keempat-2003) Hal. 90

[2]           Siahaan Robert.R. Pdt. Soli Deo Gloria. [Tabloid Reformata, November 2010 ].

[3]               http://wahyutauda.blogspot.com/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar