Istilah
“manusia lama” kita temukan dalam Roma 6:6; Kol. 3:9; Efe. 4:22, dan “istilah
manusia baru dalam Efs. 2:15, 4:24; Kol. 3:10. Dalam ayat-ayat tersebut Paulus
mengkontraskan antara sifat manusia lama dan sifat manusia baru serta perbedaan
status dan keaadaan manusia lama dan manusia baru. Jadi jelas sebetulnya bahwa
manusia lama dan manusia baru merupakan aspek yang dapat dibedakan dalam
kehidupan orang percaya. Mungkin ada yang berpikir bahwa orang percaya berada
dalam kedua natur ini, yaitu sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru pada
saat bersamaan. Di satu sisi orang pecaya sebagai manusia lama yang telah
dibenarkan dan dikuduskan, namun di sisi lain adalah juga manusia lama yang
dalam eksistensinya masih bisa melakukan dosa. Paulus sebetulnya tidak
mengajarkan konsep seperti itu, dalam Roma 6:6-7 dituliskan bahwa “manusia lama kita telah turut
disalibkan dan tubuh dosa telah hilang kuasanya, agar orang percaya tidak
menghambakan diri lagi kepada dosa. Karena orang yang telah diselamatkan telah
mati bagi dosa dan telah bebas dari dosa.” Artinya orang Kristen
hanya diberikan satu “pilihan” dan satu hak sebagai orang percaya untuk hidup
bagi kebenaran saja dan bukan hidup bagi dosa, dengan kata lain orang Kristen
harus hidup sebagai manusia baru dan mematikan manusia lamanya.
John
Calvin mengatakan “Jika
kita telah benar-benar menerima bagian di dalam kematian kristus, manusia
lama kita telah disalibkan oleh kuasa-Nya, dan tubuh dosa telah binasa dan
kerusakan pada manusia lama tidak berperan lagi. Jika kita telah menerima
kebangkitan Kristus, olehnya kita telah dibangkitkan kepada hidup yang baru
yang selaras dengan kebenaran Allah (sudah disimpulkan).”[1]
Dalam 2 Kor 5:7 juga menegaskan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus
adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang percaya tidak berada dalam dua
status, sebagai manusia lama dan sebagai manusia baru, statusnya adalah
benar-benar manusia baru. John Murray (Principle
of Conduct) mengatakan bahwa manusia lama adalah manusia yang belum
lahir baru, manusia baru sudah lahir baru, sehingga tidak mungkin lagi menyebut
orang percaya sebagai manusia lama dan manusia baru. Selain itu Anthony Hoekema
(Saved by Grace)
menekankan bahwa dengan lahir baru orang percaya telah menerima natur baru
sehingga dimampukan untuk hidup menyenangkan Allah. Memang orang percaya masih
memiliki natur keberdosaan dimana ia tetap bergumul dengannya dan berusaha
untuk menghidupi manusia barunya, namun tidak lagi dosebut manusia lama atau
orang lama. Manusia lama secara total dikuasai oleh dosa, tetapi manusia baru
seutuhnya sudah berada dalam pimpinan Roh Kudus sekalipun belum dalam
kesempurnaan yang sepenuhnya. Dalam statusnya yang baru orang Kristen bukan
lagi sebagai manusia lama, tetapi sebagai manusia baru yang sedang diperbaui
terus menerus supaya menjadi semakin serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Orang
Kristen adalah manusia baru tetapi belum sempurna, kesempurnaan itu hanya akan
terjadi dalam pemuliaan yang akan dikaruniakan dalam kedatangan Kristus yang
kedua (Roma 8:30).
TANTANGAN
PERUBAHAN
Mungkin
banyak orang yang Kristen yang bertanya, apakah sesudah Kristen Allah
menghendaki perubahan total? Tentu saja jawabannya adalah ya, namun apakah
mungkin seseorang dapat berubah secara total? Jawabannya juga adalah ya!
Seperti tertulis dalam Efesus 4:22-24: “yaitu
bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan
manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya
kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang
telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya.” Proses inilah yang kita sebut sebagai “progressive sanctification”,
dimana secara bertahap dalam seluruh aspek kehidupan seorang Kristen mengalami
pertumbuhan secara konstan dan konsisten (secara pasti semakin baik). Perubahan
ini tidak dapat dikerjakan dengan usaha orang Kristen itu sendiri, karena
sesungguhnya tidak seorang pun sanggup memenuhi tuntutan kebenaran Allah dengan
usahanya sendiri. Hanya dengan pertolongan Roh Kudus yang sanggup memampukan
orang Kristen untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya (2 Kor
3:8). Namun mengalami perubahan ini tentu bukanlah sesuatu yang dapat terjadi
secara instan dan mudah, kebanyakan orang tidak mampu berubah secara total
dalam hidupnya. Mungkin dengan kata lain, kebanyakan orang tidak bersedia
membayar harga perubahan itu. Ada beberapa faktor penyebabnya: pertama, karena
perubahan itu seringkali tidak mengenakkan dan tentu sangat tidak nyaman. Kedua, perubahan
adalah sebuah proses yang penuh pengorbanan, untuk itu diperlukan ketabahan,
ketekunan dan kesabaran dan memakan waktu. Terkadang baru bertahun-tahun
kemudian kita bisa mendapatkan hasil perubahan yang kita inginkan. Ketiga,
perubahan bisa menjadi sumber konflik baru bagi diri sendiri maupun dengan
orang-orang disekitar kita.
Perubahan
selalu mengakibatkan krisis (disequilibrium)
tetapi jika diteruskan dengan kesungguhan dan ketaatan kepada Allah akan
memberikan hasil yang nyata. Menjadi manusia baru ditandai oleh proses
pertumbuhan yang jelas pada perubahan sikap dan tingkahlaku sehari-hari. Meski
banyak manusia yang tidak menyukai perubahan, namun perubahan adalah
satu-satunya penentu dan sumber kemajuan kerohanian dan kepribadian
seseorang. Perubahan seperti apa yang
bisa memberikan kemajuan yg berarti? Yang jelas, perubahan yang dimulai
dari diri sendiri, dengan membuat langkah-langkah perubahan (action) yang jelas dan
dengan kemauan yang kuat dan tak terbendung. Alkitab mengajarkan tentang perubahan
kepada kita dalam Roma 12:2; Filipi 4:8; Matius 7:12, yang mencakup perubahan
pada: (1) Cara Berpikir & Keyakinan, dengan mengubah cara berpikir akan
mengubah keyakinan, oleh karena itu setiap manusia baru harus memikirkan segala
sesuatu dalam persfektif yang baik dan benar seperti tertulis dalam Filipi 4:8
dan Roma 12:2; (2) Perubahan pada kata-kata, perubahan pada cara berbicara dan
berkata-kata dapat mengubah banyak hal dalam relasi seseorang dengan yang lain.
Kata-kata yang lemah lembut, kata-kata yang positif dan membangun serta
menguatkan sangat diperlukan oleh setiap orang dan sangat memberkati orang
lain; (3) Perubahan pada sikap dan tingkah laku, yang akan mennghasilkan
perubahan pada hidup. Ssetiap orang sering tanpa sadar memilih pola tingkah
laku tertentu dan melakukan tindakan-tindakan tertentu sebagai suatu
kebiasaan[2].
Tiga
Karakter Manusia Baru Dalam Kristus (Efesus 4:2)
Rendah Hati (Efesus 4:2)
Manusia
baru memiliki sifat ilahi seperti Kristus yaitu rendah hati. Kata rendah hati
ini seperti yang tertulis dalam Efesus 4: 2. Paulus menasehatkan jemaat Efesus
untuk rendah hati selalu. Dalam The Thelogical Dictionary of The New Testament
kata rendah hati mengandung makna menundukkan diri sendiri kepada orang lain
dan menjadi lebih peduli terhadap kesejahteraan mereka daripada diri sendiri.
Dalam bahasa psikologi dikenal istilah altruistik atau lebih umum, sifat kepribadian
yang tidak egois.Yesus pernah menunjukkan sifat ini ketika Dia membasuh kaki
murid-murid-Nya sebagai teladan seorang pemimpin hamba (servant leader).
Lemah lembut (Efesus 4:2)
Kata
lemah lembut ini juga terdapat dalam Efesus 4:2 yang makna teologisnya dari
teks Yunani adalah sikap sederhana dan lemah lembut yang terungkap di dalam
ketaatan yang penuh, kesabaran terhadap serangan, bebas dari kebencian dan
keinginan untuk balas dendam. Salah satu perkataan Tuhan Yesus di kayu salib
mendefinisikan dengan tepat kata lemah lembut ini, "Bapa, Ampunilah
mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan".
Sabar (Efesus 4:2)
Kata
sabar dalam Alkitab bahasa Inggris yaitu "longsuffering" maknanya
"sabar menderita". Dalam teks Yunani kata ini mengacu kepada daya
tahan yang lama dihadapan amukan oposisi dan amarah dari orang lain.Ingat
bagaimana respon Yesus ketika disiksa dalam perjalanan memikul salib menuju
bukit Golgota seperti yang digambarkan dalam film The Passion Of The Christ.[3]
KESIMPULAN
Siapakah
Manusia Baru Dalam Kristus?
Menjadi
manusia baru adalah proses kerja wilayah batin. Menjadi manusia baru itu bukan
operasi wilayah fisik. Walaupun nanti setelah seseorang diubahkan menjadi baru
dalam wilayah batinnya, bisa akan memunculkan bukti-bukti perubahan penampilan
secara fisik. Metodelogi menjadikan manusia baru dalam Kristus dimulai dari
dalam, bukan dari luar. Ini dimulai dengan mendiagnosa "penyakit"
manusia lama dari dalam, dengan kemauan untuk menanggalkan jubah manusia lama
(Efesus 4:22). Jubah manusia lama itu yang dulu "dijahit" dengan
benang-benang hawa nafsu, dusta, kepahitan, fitnah dll. Sehingga bisa dikatakan
bahwa manusia lama itu adalah manusia tanpa integritas.
> DOKTRIN ANTROPOLOGI MENURUT
SURAT I YOHANES
MANUSIA BARU DAN MANUSIA LAMA
Hidup dalam Terang Allah
Dalam
surat ini diterangkan bahwa semua manusia pada dasarnya berada dalam kegelapan
apalagi kalau seseorang itu berada diluar Kristus. Dalam pasal ini juga
diterangkan bahwa jika ada orang yang mengatakan bahwa ia ada dalam Kristus
namun dalam praktek hidup ia masih dalam kegelapan, maka orang ini dinyatakan
berdusta.
Menurut
I Yohanes ini : Seseorang dikatakan lahir baru apabila ia hidup didalam Kristus
dan dalam praktek hidup, ia berada dalam terang, maka ia akan beroleh
persekutuan dengan orang lain, karena darah Kristus, yang telah menyucikan dia
dari segala dosanya.
Manusia Makluk Sosial
Dalam
Pasal 2 ayat 9-12 dikatakan bahwa seseorang akan dikatakan lahir baru apabila
ia mengasihi saudaranya ataupun kerabatnya, karena dikatakan dalam ayat ini,
orang yang mengatakan bahwa hidupnya berada dalam Kristus namun ia membenci
saudaranya, maka ia sama halnya dengan berada dalam kegelapan.
Manusia
tidak luput dari yang namanya masalah, dan manusia juga membutuhkan orang lain
untun dapat menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu ayat ini mengatakan bahwa
orang yang membenci saudaranya atau sesamanya ia berada dalam kegelapan, karena
manusia itu dicipakan bukan hanya satu orang.
Dalam
pasal 3:11-18, dikatakan bahwa kasih kepada saudara sebagai tanda hidup baru.
Ini berarti, ketika kita mengasihi saudara kita, maka kita juga mengasihi
Allah. Firman Tuhan katakan dalam Injil Matius 6:14-15 Karena jikalau kamu
mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni
kesalahanmu.
Ini
adalah bukti bahwa ketika kita mengaihi saudara kita maka Allah mengampuni
dosa-dosa kita, dan apabila dosa kita diampuni oleh Bapa, maka kita sudah
dikuduskan bersama Kristus, dan kita menyandang status sebagai anak-anak Allah,
ketika kita menyandang status ini, maka kita dinyatakan sebagai “Orang
yang lahir baru”.
SERUPA DAN SEGAMBAR DENGAN ALLAH
Dalam
pasal 3:2 “Saudara-saudaraku
yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa
keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan
diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam
keadaan-Nya yang sebenarnya”.
Disini
dikatakan bahwa apabila sudah mencapai waktu-Nya Tuhan, maka kita akan menjadi
seperti Dia. Ketika Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya dalam dunia ini,
maka Ia akan mengangkat orang-orang kudus-Nya bersama-sama dengan Dia
diawan-awan, dan orang-orang kudu-Nya akan menjadi sama dengan Dia. Sama dalam
arti ialah memiliki tubuh kemuliaan sama seperti Dia.
[1]
Calvin, Johanes., Institutio. (BPK.Gunung Mulia, Jakarta :
cetakan keempat-2003) Hal. 90
[2]
Siahaan Robert.R. Pdt. Soli
Deo Gloria. [Tabloid
Reformata, November 2010 ].
[3]
http://wahyutauda.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar