Minggu, 30 April 2017

Kepedulian Terhadap yang Lemah



Teguran Paulus yang keras terhadap penyimpangan yang terjadi di jemaat Galatia pasti akan menghasilkan respons yang beragam. Ada yang disadarkan akan kesalahannya, berdukacita, dan hendak bertobat. Ada pula kelompok orang yang tidak jatuh ke dalam kesalahan tersebut, namun memakai surat Paulus ini untuk menghakimi kelompok mereka yang sudah tersesat.

Paulus tidak ingin ada orang yang bermegah atas kejatuhan orang lain. Justru orang yang tidak jatuh karena rohaninya kuat harus mampu menunjukkan sikap kristiani yang penuh kasih terhadap mereka yang jatuh. Sikap kristiani itu adalah ujud kualitas kekristenan sejati. Pertama, ia tidak akan menghakimi saudara yang sedang jatuh, sebaliknya ia akan mengampuni dan mengangkatnya (ayat 1). Ini adalah sikap yang meneladani Kristus. Kedua, ia menyadari diri juga lemah dan bisa jatuh sehingga akan selalu berjaga-jaga agar tidak jatuh (ayat 3). Dengan kesadaran seperti itu, terbangunlah sikap saling menolong di antara sesama anak Tuhan (ayat 2). Ketiga, ia tidak menilai diri dengan memakai standar manusia melainkan standar Firman (ayat 4-5). Keempat, ia akan rendah hati menerima teguran firman karena kesalahannya dan bersikap hormat kepada yang menegur dengan kasih (ayat 6). Paulus juga terus mendorong supaya orang yang jatuh cepat bertobat karena Allah tidak dapat dipermainkan (ayat 7-8). Akhirnya, Paulus juga menasihati jemaat Galatia agar terus menerus mewujudkan karakter ilahi mereka dengan perbuatan-perbuatan yang baik dan menjadi berkat (ayat 9-10).

Gereja seharusnya menjadi wadah kasih persaudaraan diwujudkan. Ada teguran atas kesalahan, ada pertobatan dari kesalahan yang dilakukan, ada pengampunan untuk orang yang bertobat, dan ada hormat kepada orang yang menegur. Semua itu harus dilandaskan atas kasih Tuhan. Jangan menunggu orang lain, mulailah dari diri Anda.

Jumat, 28 April 2017

“Yesus Jalan Kepada Bapa”


Shalom aleichem..!!!
Mari kita baca renungan hari ini dari Injil Yoh. 14:1-7.

Pernyataan Yesus bahwa Ia akan pergi ke suatu tempat, yang tidak diketahui dan tidak dapat diikuti oleh para murid-Nya, juga peringatan-Nya kepada Petrus bahwa ia akan menyangkal diri-Nya, menimbulkan kegelisahan yang luar biasa di antara mereka (lihat Yoh. 11:33; 12:27; 13:21). Kegelisahan mereka timbul karena mereka tidak dapat memahami misi Yesus dan rencana Allah Bapa. Yesus mendorong mereka untuk percaya pada Bapa dan juga pada-Nya (ayat 14:1).

Pertama, Yesus menegaskan bahwa barang siapa yang mengenal dan percaya kepada Dia, maka ia juga akan mengenal Allah Bapa. Sebab hanya melalui kenal dan percaya pada Yesus, seseorang dapat datang kepada Allah Bapa (ayat 6-7). Yesus menegaskan diri-Nya sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Dia adalah jalan bukan sekadar penunjuk jalan. Dialah yang dapat membawa setiap orang berdosa kepada Allah yang kudus melalui pengurbanan-Nya sendiri. Dia adalah kebenaran bukan sekadar pewarta kebenaran. Kata dan karya-Nya sepenuhnya dapat diandalkan untuk menyelamatkan manusia berdosa. Dia adalah hidup bukan sekadar pemberi hidup. Dialah sumber kehidupan. Itu sebabnya, Dia bisa memberikan hidup bagi orang yang percaya kepada-Nya.

Kedua, Yesus memberitahukan penyebab kepergian-Nya kepada Allah Bapa, yaitu mempersiapkan tempat untuk murid-Nya. Ia juga berjanji kelak akan kembali menjemput mereka (ayat 2-3). Ini merupakan janji eskatologis bagi kita juga bahwa kelak setiap orang percaya akan bertemu dengan-Nya dalam rumah Bapa. Hanya orang-orang yang sungguh mengenal Yesus yang akan menerimanya (ayat 4-5). Janji ini adalah penghiburan dan peneguhan bagi iman kita.

Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan adalah fakta kebenaran Ilahi yang sering sulit diterima oleh banyak orang. Bagaimana dengan Anda? Percayakah Anda bahwa Yesuslah, Jalan kepada Allah Bapa?

Kamis, 27 April 2017

"Alami TUHAN"


Shalom aleichem..

Maz. 34:1-10

Bagaimana meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu baik? Untuk orang-orang yang berpikiran modern, kita bisa mengajukan sejumlah bukti akan kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab, atau yang dapat diperiksa dari kenyataan alam semesta ciptaan-Nya. Namun orang-orang yang dipengaruhi oleh pandangan pascamodern, yang merelatifkan segala kebenaran, tidak butuh pengajaran dan berbagai bukti tertulis. Yang mereka butuhkan adalah pengalaman sebagai bukti.

Mazmur ini mengajak para pembacanya untuk mengalami Tuhan. Alami sendiri kebaikan-Nya (ayat 9) sebagaimana yang telah pemazmur rasakan. Apa yang pemazmur rasakan dan alami? Rupanya mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul, yang hendak membunuh dirinya (ayat 1; lih. 1 Samuel 18-27). Sebagai seorang buronan, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan, dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya (ayat 7). Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia (ayat 8). Bagaikan satpam atau pengawal khusus yang dua puluh empat jam sehari menjaga penuh.

Pemazmur mengajak para pembacanya merespons Tuhan agar pengalaman hidup mereka diperkaya. Mari, pandanglah Tuhan, maka hidup ini akan penuh kesukacitaan (ayat 7). Ayo, takutlah akan Tuhan, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita (ayat 10-11).

Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tak usah menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alami Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek hidup Anda. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup Anda. Saat Anda mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain.

Senin, 24 Oktober 2016

“IMAN YANG DISEGARKAN”

Pembacaan :
Markus 5:25-34
Bila tanaman membutuhkan air untuk dapat bertumbuh, maka iman membutuhkan firman untuk dapat bertumbuh.
Dalam ayat terakhir dari pembacaan ini Yesus katakan: “Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Hal ini beranjak dari kepercayaannya dengan berkata dalam hati, “asal kujamah jubahNya...”.
Hal ini dikatakan olehnya, karena ia lebih dahulu mendengar Firman dari setiap pengajaran yang Yesus sampaikan.
Ada beberapa poin yang harus kita perhatikan, yang membuat ibu ini menjadi sembuh.
1.     Ia mendengar tentang Yesus (Ayat 27)
Banyak orang mendengar tentang Yesus namun tidak percaya bahkan memusuhiNya. Contoh para ahli taurat dan orang-orang farisi. Berbeda dengan perempuan ini! Ketika ia mendengar tentang Yesus, ia menjadi sangat percaya kepadaNya.
2.     Ia berusaha (Ayat 27)
Saat berada ditengah-tengah kerumunan orang, perempuan ini pasti sangat kesulitan untuk mendapatkan Yesus. Namun dengan keterbatasannya (Sedang menderita sakit), wanita ini teru berjuang.
Didalam kehidupan kekristenan terkadang kita berbeda dengan perempuan ini! Saat masalah datang atau saat merasa tidak sanggup lagi yang dilakukan bukannya menyerahkan semua pergumulan kepada Tuhan melainkan berusaha dengan mencari alternatif lain yang justru membuat nya menjauh daripada TUHAN.
3.     Ia Percaya sebelum mengalami (Ayat 28)
Ada banyak orang yang menghindari berbagai hal karena takut sebab belum meihat hasilnya. Namun perempuan ini berbeda. Dia sudah sangat percaya kepada Yesus sehingga dia tahu walau hanya menjamah jubahNya dia pasti sembuh.
Ketika Yesus dikerumuni banyak orang, pasti ada banyak orang sakit diantaranya, dan firman Tuhan menyebutkan bahwa mereka berdesak-desakkan, namun mengapa hanya peremuan ini yang memperoleh kesembuhan? Karena dia lebih dahulu percaya sebelum ia melihat!

Dari tiga hal ini ada 2 hal yang akhirnya terjadi didalam dirinya:
1.     Pendarahannya sembuh seketika (Ayat 29)
2.     Memperoleh keselamatan (Ayat 34)

PERCAYA DENGAN SUNGGUH KEPADA YESUS DAN LIHATLAH BAGAIMANA KUASANYA BEKERJA!

Minggu, 14 Agustus 2016

KEMULIAAN BAPA

Yoh. 17:1-5 (Harus Dibaca dahulu)

Kemuliaan Bapa. Doa adalah ungkapan terjelas dari kondisi hati orang terdalam. Hal ini dapat kita lihat di dalam perumpamaan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-13). Dalam doa-Nya ini terpampang jelas siapa Yesus dalam kesadaran diri-Nya, apa sikap- Nya terhadap Bapa, terhadap para murid-Nya, dan terhadap semua orang yang percaya kepada-Nya. Bagian pertama doa yang sering disebut sebagai “Doa Imam Besar Agung” ini berisi permohonan untuk diri-Nya kepada Bapa.

Betapa akrab dan uniknya hubungan Yesus dengan Bapa tampak dalam beberapa hal. Pertama, Dia menengadah ke surga, menandakan hubungan-Nya yang akrab dengan Bapa. Kedua, Dia menyapa TUHAN sebagai “Bapa” dan menyebut diri-Nya sebagai “Putra-Mu.” Bila kedua hal ini kita gabungkan dengan pernyataan-Nya bahwa Ia sudah memiliki kemuliaan kekal yang dimiliki-Nya bersama Bapa sebelum Ia menjadi manusia (ayat 5), kita dapat menyimpulkan bahwa Ia sedang berbicara tentang hubungan yang sangat unik antara diri-Nya dengan Bapa.

Bahwa dalam bagian ini Tuhan Yesus memohon kemuliaan bagi diri-Nya, tidak dapat kita samakan dengan keinginan manusia yang cenderung mencari kehormatan, kemuliaan, atau penghargaan untuk dirinya sendiri. Kemuliaan yang Yesus minta dari Bapa ada dalam hubungan dengan beberapa kenyataan. Pertama, karena Ia sudah memenuhi rencana Bapa untuk memberi hidup kekal. Hidup kekal adalah mengalami hidup TUHAN. Kita tahu bahwa itu dapat terjadi karena Ia kelak menyerahkan nyawa-Nya dan membuat pengampunan dari TUHAN dan kasih TUHAN untuk orang-orang pilihan-Nya menjadi kenyataan. Itu diwujudkan-Nya bukan saja melalui ajaran-Nya, tetapi juga melalui sikap hidup-Nya dan bahkan di dalam kematian- Nya. Semua itu karya Yesus yang memuliakan dan menyukakan hati Bapa. Kedua, yang diminta-Nya adalah sesuatu yang memang merupakan hak-Nya. Ia adalah Putra yang rela meninggalkan surga menjadi manusia. Maka, yang diminta-Nya ini adalah pengokohan Bapa bahwa semua yang Yesus lakukan berkenan kepada Bapa.

"Agar kita dapat hidup mempermuliakan Tuhan, Yesus rela meninggalkan kemuliaan-Nya".
So,jgn sia2kan pengorbanan Kristus guys...!!! 😉👍

Kamis, 19 Mei 2016

“WASPADA TERHADAP PENGAJARAN SESAT”

“WASPADA TERHADAP PENGAJARAN SESAT”

Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan  Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya. (Ibr. 2:1-4).

Dalam pembacaan diatas, kita melihat dalam ayat pertama dikatakan kita harus beih teliti ketika mendengar sesuatu. Mengapa? Karena kepada setiap orang percaya, Tuhan telah berikan keselamatan itu secara Cuma-Cuma dengan pengorbanan anakNya yang tunggal. Karena itu kita perlu waspada terhadap apa yang kita dengar, karena jangan sampai hal itu mendoktrinasi pikiran kita dengan hal-hal yang menyimpang dari kebenaran firman yang kita pegang teguh sebagai landasan iman kita.
Ada banyak cara setan untuk menjebak orang percaya, salah satunya dengan pengajaran yang seolah-olah benar, namun tidak memiliki dasar Firman yang dapat dipegang. Salah satu contoh seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Kab. Alor , desa pantar Proponsi NTT. Didaerah tersebut ada beberapa persekutuan doa yang terkontaminasi dengan ajaran yang menyimpang, yakni dengan munculnya beberapa orang yang menamakan diri mereka sebagai “laskar Kristus”. Tugas mereka ini adalah menjaga ibadah, dan ketika salah satu anggota mengatakan bahwa ia menadapat “wahyu Tuhan” bahwa ada salah seorang dari anggota persekutuan yang memegang jimat dsb, maka orang tersebut akan mereka pukul hingga babak-belur.
Ajaran-ajaran seperti ini sebenarnya tidak memiliki dasar Firman, karena tidak ada firman yang menjamin hal terebut. Pertanyaannya: mengapa ajaran tersebut bisa masuk? Jawabannya adalah karena tidak memiliki pemahaman Firman yang benar.

Dari pembacaan diatas, Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa firman Tuhan yang kita dengar adalah Firman yang disampaikan Tuhan melalui malaikat, karena itu ketika ada pelanggaran yang dibuat maka akan ada balasan yang setimpal yang akan Tuhan berikan pada siapa yang melanggar. Firman yang Tuhan berikan juga adalah firman yang disertai dengan mukjizat-mukjizat, jadi ketika mendengar firman Tuhan disampaikan, harus diterima dengan sungguh-sungguh karena ada kuasa yang menyertai. Dan apabila kuasa Tuhan menyertai, maka anda tidak mudah untuk terjebak dengan pengajaran-pengajaran yang menyimpang dari kebenaran. Amin.

Selasa, 03 Mei 2016

MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA


“MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA”
LUK. 11:27-29

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau."  Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

Kita semua adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan bahkan sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4). Karena itu sebagai orang-orang pil ihan kita harus bersyukur karena kenyataan bahwa kita adalah orang-orang yang istimewa dihadapan Tuhan.
Dalam injil Lukas, penulis mencatat kata “berbahagialah” sebanyak 16 kali. Dalam prinsip menafsir kalimat yang diulang-ulang merupakan suatu hal yang penting. Dengan kata lain, penulis  injil Lukas ingin menyatakan bahwa “kehidupan yang berbahagia” merupakan hal yang penting. Sebab kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, adalah kehidupan yang sempurna. Dalam kitab Amsal, penulis mengatakan bahwa “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” artinya orang yang selalu hidup dalam kebahagiaan adalah orang-orang yang selalu dalam perlindungan Tuhan.
Bila dihubungkan dengan bagian ini, berdasarkan ayat Firman Tuhan diatas, Tuhan Yesus berkata bahwa yang berbahagia bukan orang yang menjadi ibunya dalam maksud adalah Maria. Tetapi yang berbahagia adalah orang yang medengarkan Firman Tuhan dan memeliharanya. Jadi ukuran untuk menjadi orang yang berbahagia bukan harta benda yang kita miliki, melainkan ketika kita mendengar dan memelihara Firman Tuhan. Karena itu semakin kita mendengar dan memelihara Firman, maka semakin berbahagialah kita.
Memang dalam mengikut Tuhan, kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Artinya ada beban yang juga harus kita tanggung, dan justru saat kita rajin mendengar Firman dan memeliharanya, kita akan mendapatkan banyak janji yang Tuhan berikan didalamnya untuk menguatkan kita saat menghadapi permasalahan kehidupan sehingga kita tidak perlu lagi untuk takut dan putus asa.

Tetaplah berbahagia dan jangan pernah khawatir untuk memikul kuk yang Tuhan pasang, sebab Yesus berkata: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat. 11:30).