Senin, 24 Oktober 2016

“IMAN YANG DISEGARKAN”

Pembacaan :
Markus 5:25-34
Bila tanaman membutuhkan air untuk dapat bertumbuh, maka iman membutuhkan firman untuk dapat bertumbuh.
Dalam ayat terakhir dari pembacaan ini Yesus katakan: “Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Hal ini beranjak dari kepercayaannya dengan berkata dalam hati, “asal kujamah jubahNya...”.
Hal ini dikatakan olehnya, karena ia lebih dahulu mendengar Firman dari setiap pengajaran yang Yesus sampaikan.
Ada beberapa poin yang harus kita perhatikan, yang membuat ibu ini menjadi sembuh.
1.     Ia mendengar tentang Yesus (Ayat 27)
Banyak orang mendengar tentang Yesus namun tidak percaya bahkan memusuhiNya. Contoh para ahli taurat dan orang-orang farisi. Berbeda dengan perempuan ini! Ketika ia mendengar tentang Yesus, ia menjadi sangat percaya kepadaNya.
2.     Ia berusaha (Ayat 27)
Saat berada ditengah-tengah kerumunan orang, perempuan ini pasti sangat kesulitan untuk mendapatkan Yesus. Namun dengan keterbatasannya (Sedang menderita sakit), wanita ini teru berjuang.
Didalam kehidupan kekristenan terkadang kita berbeda dengan perempuan ini! Saat masalah datang atau saat merasa tidak sanggup lagi yang dilakukan bukannya menyerahkan semua pergumulan kepada Tuhan melainkan berusaha dengan mencari alternatif lain yang justru membuat nya menjauh daripada TUHAN.
3.     Ia Percaya sebelum mengalami (Ayat 28)
Ada banyak orang yang menghindari berbagai hal karena takut sebab belum meihat hasilnya. Namun perempuan ini berbeda. Dia sudah sangat percaya kepada Yesus sehingga dia tahu walau hanya menjamah jubahNya dia pasti sembuh.
Ketika Yesus dikerumuni banyak orang, pasti ada banyak orang sakit diantaranya, dan firman Tuhan menyebutkan bahwa mereka berdesak-desakkan, namun mengapa hanya peremuan ini yang memperoleh kesembuhan? Karena dia lebih dahulu percaya sebelum ia melihat!

Dari tiga hal ini ada 2 hal yang akhirnya terjadi didalam dirinya:
1.     Pendarahannya sembuh seketika (Ayat 29)
2.     Memperoleh keselamatan (Ayat 34)

PERCAYA DENGAN SUNGGUH KEPADA YESUS DAN LIHATLAH BAGAIMANA KUASANYA BEKERJA!

Minggu, 14 Agustus 2016

KEMULIAAN BAPA

Yoh. 17:1-5 (Harus Dibaca dahulu)

Kemuliaan Bapa. Doa adalah ungkapan terjelas dari kondisi hati orang terdalam. Hal ini dapat kita lihat di dalam perumpamaan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-13). Dalam doa-Nya ini terpampang jelas siapa Yesus dalam kesadaran diri-Nya, apa sikap- Nya terhadap Bapa, terhadap para murid-Nya, dan terhadap semua orang yang percaya kepada-Nya. Bagian pertama doa yang sering disebut sebagai “Doa Imam Besar Agung” ini berisi permohonan untuk diri-Nya kepada Bapa.

Betapa akrab dan uniknya hubungan Yesus dengan Bapa tampak dalam beberapa hal. Pertama, Dia menengadah ke surga, menandakan hubungan-Nya yang akrab dengan Bapa. Kedua, Dia menyapa TUHAN sebagai “Bapa” dan menyebut diri-Nya sebagai “Putra-Mu.” Bila kedua hal ini kita gabungkan dengan pernyataan-Nya bahwa Ia sudah memiliki kemuliaan kekal yang dimiliki-Nya bersama Bapa sebelum Ia menjadi manusia (ayat 5), kita dapat menyimpulkan bahwa Ia sedang berbicara tentang hubungan yang sangat unik antara diri-Nya dengan Bapa.

Bahwa dalam bagian ini Tuhan Yesus memohon kemuliaan bagi diri-Nya, tidak dapat kita samakan dengan keinginan manusia yang cenderung mencari kehormatan, kemuliaan, atau penghargaan untuk dirinya sendiri. Kemuliaan yang Yesus minta dari Bapa ada dalam hubungan dengan beberapa kenyataan. Pertama, karena Ia sudah memenuhi rencana Bapa untuk memberi hidup kekal. Hidup kekal adalah mengalami hidup TUHAN. Kita tahu bahwa itu dapat terjadi karena Ia kelak menyerahkan nyawa-Nya dan membuat pengampunan dari TUHAN dan kasih TUHAN untuk orang-orang pilihan-Nya menjadi kenyataan. Itu diwujudkan-Nya bukan saja melalui ajaran-Nya, tetapi juga melalui sikap hidup-Nya dan bahkan di dalam kematian- Nya. Semua itu karya Yesus yang memuliakan dan menyukakan hati Bapa. Kedua, yang diminta-Nya adalah sesuatu yang memang merupakan hak-Nya. Ia adalah Putra yang rela meninggalkan surga menjadi manusia. Maka, yang diminta-Nya ini adalah pengokohan Bapa bahwa semua yang Yesus lakukan berkenan kepada Bapa.

"Agar kita dapat hidup mempermuliakan Tuhan, Yesus rela meninggalkan kemuliaan-Nya".
So,jgn sia2kan pengorbanan Kristus guys...!!! 😉👍

Kamis, 19 Mei 2016

“WASPADA TERHADAP PENGAJARAN SESAT”

“WASPADA TERHADAP PENGAJARAN SESAT”

Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan  Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya. (Ibr. 2:1-4).

Dalam pembacaan diatas, kita melihat dalam ayat pertama dikatakan kita harus beih teliti ketika mendengar sesuatu. Mengapa? Karena kepada setiap orang percaya, Tuhan telah berikan keselamatan itu secara Cuma-Cuma dengan pengorbanan anakNya yang tunggal. Karena itu kita perlu waspada terhadap apa yang kita dengar, karena jangan sampai hal itu mendoktrinasi pikiran kita dengan hal-hal yang menyimpang dari kebenaran firman yang kita pegang teguh sebagai landasan iman kita.
Ada banyak cara setan untuk menjebak orang percaya, salah satunya dengan pengajaran yang seolah-olah benar, namun tidak memiliki dasar Firman yang dapat dipegang. Salah satu contoh seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Kab. Alor , desa pantar Proponsi NTT. Didaerah tersebut ada beberapa persekutuan doa yang terkontaminasi dengan ajaran yang menyimpang, yakni dengan munculnya beberapa orang yang menamakan diri mereka sebagai “laskar Kristus”. Tugas mereka ini adalah menjaga ibadah, dan ketika salah satu anggota mengatakan bahwa ia menadapat “wahyu Tuhan” bahwa ada salah seorang dari anggota persekutuan yang memegang jimat dsb, maka orang tersebut akan mereka pukul hingga babak-belur.
Ajaran-ajaran seperti ini sebenarnya tidak memiliki dasar Firman, karena tidak ada firman yang menjamin hal terebut. Pertanyaannya: mengapa ajaran tersebut bisa masuk? Jawabannya adalah karena tidak memiliki pemahaman Firman yang benar.

Dari pembacaan diatas, Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa firman Tuhan yang kita dengar adalah Firman yang disampaikan Tuhan melalui malaikat, karena itu ketika ada pelanggaran yang dibuat maka akan ada balasan yang setimpal yang akan Tuhan berikan pada siapa yang melanggar. Firman yang Tuhan berikan juga adalah firman yang disertai dengan mukjizat-mukjizat, jadi ketika mendengar firman Tuhan disampaikan, harus diterima dengan sungguh-sungguh karena ada kuasa yang menyertai. Dan apabila kuasa Tuhan menyertai, maka anda tidak mudah untuk terjebak dengan pengajaran-pengajaran yang menyimpang dari kebenaran. Amin.

Selasa, 03 Mei 2016

MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA


“MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA”
LUK. 11:27-29

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau."  Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

Kita semua adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan bahkan sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4). Karena itu sebagai orang-orang pil ihan kita harus bersyukur karena kenyataan bahwa kita adalah orang-orang yang istimewa dihadapan Tuhan.
Dalam injil Lukas, penulis mencatat kata “berbahagialah” sebanyak 16 kali. Dalam prinsip menafsir kalimat yang diulang-ulang merupakan suatu hal yang penting. Dengan kata lain, penulis  injil Lukas ingin menyatakan bahwa “kehidupan yang berbahagia” merupakan hal yang penting. Sebab kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, adalah kehidupan yang sempurna. Dalam kitab Amsal, penulis mengatakan bahwa “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” artinya orang yang selalu hidup dalam kebahagiaan adalah orang-orang yang selalu dalam perlindungan Tuhan.
Bila dihubungkan dengan bagian ini, berdasarkan ayat Firman Tuhan diatas, Tuhan Yesus berkata bahwa yang berbahagia bukan orang yang menjadi ibunya dalam maksud adalah Maria. Tetapi yang berbahagia adalah orang yang medengarkan Firman Tuhan dan memeliharanya. Jadi ukuran untuk menjadi orang yang berbahagia bukan harta benda yang kita miliki, melainkan ketika kita mendengar dan memelihara Firman Tuhan. Karena itu semakin kita mendengar dan memelihara Firman, maka semakin berbahagialah kita.
Memang dalam mengikut Tuhan, kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Artinya ada beban yang juga harus kita tanggung, dan justru saat kita rajin mendengar Firman dan memeliharanya, kita akan mendapatkan banyak janji yang Tuhan berikan didalamnya untuk menguatkan kita saat menghadapi permasalahan kehidupan sehingga kita tidak perlu lagi untuk takut dan putus asa.

Tetaplah berbahagia dan jangan pernah khawatir untuk memikul kuk yang Tuhan pasang, sebab Yesus berkata: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat. 11:30).

Minggu, 01 Mei 2016

“PENDALAMAN ALKITAB” SABAR, KESABARAN, PANJANG SABAR

“PENDALAMAN ALKITAB”
SABAR, KESABARAN, PANJANG SABAR
(Ibrani erekh, Yunani makrothumia).
Sumber : Ensiklopedi Alkitab


I. Sifat Allah Yg Panjang Sabar
Sifat ini bukanlah kepasifan, tapi penguasaan atau pengekangan ataupun pengendalian diri Allah menghadapi perlawanan dan hal-hal lain yg menimbulkan amarah-Nya. Sifat ini hampir selalu dikaitkan dengan sifat kasih sayang dan kemurahan Allah terhadap orang berdosa dan pemberontak, yg sebenarnya patut kena murka-Nya. Tanda perlindungan diberikan-Nya kepada Kain (#/TB Kej 4:15*), pelangi (#/TB Kej 9:11-17*; bnd #/TB 1Pet 3:20*), berkali-kali Israel yg durhaka itu dipulihkan kembali (#/TB Hos 11:8-9*), diselamatkan-Nya Niniwe (#/TB Yun 3*), pembelaan Yesus yg berulang-ulang atas Yerusalem (#/TB Mr 12:1-11*), penundaan kedatangan Kristus yg kedua kalinya (#/TB 2Pet 3:9*),  —  semuanya itu adalah ungkapan dari panjang sabar Allah. Kesabaran Allah adalah ‘pemberian tempat dan waktu bagi manusia dengan maksud tertentu’ (Barth). Panjang sabar Allah adalah kesempatan yg diberikan untuk bertobat (#/TB Rom 2:4*; #/TB 2Pet 3:9*), dan doa dapat memperpanjang kesempatan ini (#/TB Kej 18:22* dab; #/TB Kel 32:30*; #/TB 1Yoh 5:16*).

II. Kesabaran Manusia
Dalam Ams sifat ini paling dipuji; karena sangat berharga dalam praktik hidup untuk menghindari perselisihan, juga dalam menertibkan perkara-perkara dunia dengan bijaksana, terutama jika terlibat dalam hal-hal yang menimbulkan amarah. Orang Kristen wajib menunjukkan kesabaran seperti kesabaran Allah, dalam hubungan satu sama lain (#/TB Mat 18:26,29*; #/TB 1Kor 13:4*; #/TB Ef 4:2; 1*.Tes #/TB Ef 5:14*), sebab panjang sabar adalah salah satu dari buah Roh Kudus (#/TB Gal 5:22*). Kesabaran dalam hubungan dengan sesama harus sesuai dengan kesabaran (Yunani hupomone) dalam menghadapi penderitaan dan cobaan (#/TB Rom 5:3*; #/TB 1Kor 13:7*; #/TB Yak 1:3; 5:7-11*; #/TB Wahy 13:10*). Kesabaran yg menyerupai kesabaran Yesus ini (#/TB Ibr 12:1-3*) adalah karunia ilahi (#/TB Rom 15:5*; #/TB 2Tes 3:5*). Orang Kristen yg bertahan sampai akhir karena kesabarannya, akan selamat atau memperoleh hidupnya (#/TB Mr 13:13*; #/TB Luk 21:19*; #/TB Wahy 3:10*).


Selasa, 29 Maret 2016

YESUS MENAMPAKAN DIRINYA

http://pdkristusalfaomega.blogspot.co.id/
YESUS MENAMPAKAN DIRINYA
Mark. 16:9-20

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Pada bagian ini ketika Tuhan Yesus menampakan diri mula-mula kepada Maria Magdalena, lalu kemudia Maria pergi dan menceritakan kepada murid-murid yang lain, mereka tidak percaya. Mungkin karena mereka masih berkabung, sebab seorang guru besar yang begitu berpengaruh dalam kehidupan mereka harus mati ditangan orang-orang berdosa. Atau mungkin mereka masih dalam keadaan kelemahan iman sebab mereka harus melihat bagaimana guru mereka harus menderita dianiaya oleh para tentara Romawi, dan bahkan mati tergantung dikayu salib. Sehingga mereka merasa bahwa itu merupakan hal yang tidak masuk akal kalau orang yang baru mati didepan mata mereka, menampakan diri sebagai orang yang hidup.
Hal yang sama terjadi ketika Yesus menampakan diri lagi pada dua orang pada jalan menuju Emaus, mereka tetap tidak percaya. Bahkan dibagian lain menceritakan bagaimana salah seorang murid, yakni Tomas mengatakan bahwa sebelum ia tidak akan percaya sebelum ia mencucukan jarinya pada lambung Yesus yang tertikam, hanya saja pada bagian ini tidak menceritakan kisah tersebut.
Ketika mereka masih berdebat dalam ketidakpercayaan mereka, Yesus datang dan menampakan diri kepada mereka, dan mencela ketidakpercayaan mereka. Ada banyak orang percaya yang meninggalkan iman mereka hanya karena belum melihat suatu tanda atau mukjizat yang mereka nantikan. Orang-orang seperti ini sebenarnya belum begitu mengalami Tuhan dalam kehidupan mereka.
Bagian berikutnya, setelah Yesus menampakan diriNya kepada mereka semua, Ia memerintahkan kepada mereka untuk memberitakan injil kepada segala makluk. Perintah ini sebenarya bukan hanya bagi murid-murid pada saat itu saja! Perintah ini juga ditujukan pada kita semua orang percaya sebab firmaNya berkata “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: ...” (Ayat 17).
Mungkin ketika hendak melakukan penginjilan kita merasa malu, takut, dan sebagainya. Tetapi bagian firman dalam ayat 17-18 (Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh), menguatkan kita semua. Tugas kita hanya melakukan apa yang Tuhan perintahkan, untuk selanjutanya adalah tugas Tuhan.

Tetap percaya dan andalkan TUHAN selalu!!!! TUHAN Yesus memberkati kita semua. Amin.

PETRUS MENYANGKAL YESUS

PETRUS MENYANGKAL YESUS
Markus 14:26-31

“Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.  Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." Kata Petrus kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lain pun berkata demikian juga”.

Yesus memberikan gambaran kepada murid-muridNya bahwa suatu saat bahwa Ia akan memukul gembala-gembala. Dan hal itu akan membuat iman mereka tergoncang.
Tetapi yang Ia maksud sebagai gembala adalah Ia sendiri, makanya Petrus dengan percaya diri mengatakan bahwa ia tidak akan menyangkal Yesus, sebab ia tidak percaya bahwa Yesus sebagai gembala akan mengalami nasib seperti itu. Apalagi ia mengenal siapa Yesus. Ia tahu bahwa Yesus adalah seorang yang sanggup melakukan banyak mukjizat, sehingga tidak terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menyangkal Yesus.
Terkadang sadar atau tidak sadar kita juga sering menyangkal Yesus dalam kehidupan kita. Terkadang kita sering berkata “saya mau iring Yesus selamanya, sekaipun harus mati untuk Yesus” namun pada kenyataannya kita sering menyakiti hatiNya.
Mengikut Kristus, sama halnya dengan ketika seorang mengambil seorang Istri atau suami. Ia harus lebih dulu mengenal pasangannya dengan baik baru mengambil langkah untuk menikah. Artinya ketika kita berkata “Aku mau mengikut Yesus selamanya” maka sebaiknya kita harus mengenal Yesus dengan baik.
Ketika Petrus menyatakan bahwa ia tidak akan menyangkal Yesus, ia sebenarnya beranggapan bahwa Yesus sanggup menolong dia kapanpun. Namun ketika ujian sesungguhnya datang kepadanya, yakni saat ia melihat orang yang begitu luar biasa dihadapannya harus menderita. Imannya menjadi goyah terhadap Yesus, sehingga akhirnya iapun menyangkal Yesus.
Peristiwa lain yang terjadi setelah penyangkalan Petrus, ia berbalik kepada TUHAN dan memohon pengampunan. Dan TUHAN mengampuni dia. Ini menunjukan bahwa sebesar apapun kesalahan kita TUHAN maha pengampun. Sebab rancangan TUHAN adalah rancangan yang penuh damai sejahtera dan bukan kecelakaan. Namun kadang kitalah yang membuat rancangan kecelakaan terhadap diri kita sendiri.

Sekarang apa yang menjadi pilihan kita? Mau kembali seperti yang Petrus lakukan atau tetap tinggal dalam keadaan kita sekarang. Amin.