Jumat, 06 Juli 2018

UCAPAN SYUKUR DIBALIK KEKACAUAN


1 Kor. 1:4-9
 Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.

Surat 1 Korintus ini ditulis oleh Rasul Paulus sendiri saat ia sedang berada dipenjara Roma. Kota Korintus sendiri merupakan salah satu ibukota Yunani pada saat itu kota ini juga merupakan salah satu pusat perdagangan bersama dengan beberapa kota lain seperti Efesus, dll.
Pada saat Paulus menulis surat ini, keadaan jemaat di Korintus sedang dalam kekacauan moral yang begitu rupa. Diantara mereka banyak yang mesuk dalam kesesatan karena penyimpangan ajaran-ajaran dewa-dewa Yunani pada saat itu.
Dibagian lain dalam kehidupan berkeluarga, mereka juga mengalami degradasi moral yang luar biasa. Juga didalam pelayanan dengan berbagai karunia yang mereka miliki, mereka saling beranggapan bahwa karunia merekalah yang paling baik daripada yang orang lain miliki.
Melihat situasi seperti ini, rasul Paulus sangat ingin menasehati mereka dengan kasih. Hal ini nampak dari ayat 3, Paulus megatakan bahwa ia mengucap syukur kepada Tuhan karena mereka. Kalimat pembuka ini sengaja diberikan Paulus kepada jemaat agar dalam teguran-teguran yang ia sampaikan dalam pasal-pasal selanjutnya dapat diterima oleh jemaat.
Kisah ini mengajarkan kepada kita juga sebagai orang percaya dalam mengahadapi situasi yang membuat kita marah atau ada orang-orang yang sengaja membuat kita marah, kita dapat mengatasinya dengan kepala dingin atau menegurnya dengan kasih sehingga kitapun tidak mengalami penolakan.
Dibagian lain, kit  a juga dapat belajar dari gaya hidup jemaat Korintus, untuk tidak berlaku sombong dengan setiap kepercayaan yang TUHAN berikan kepada kita, terutama dalam karunia!
Karena hebat bagaimanapun kita dengan karunia yang kita miliki tetapi jika kita kehilangan sikap rendah hati atau hati yang penuh dengan kasih, maka sesungguhnya pelayanan-pelayanan yang kita lakukan, hanyalah kesia-siaan belaka!
Karena itu Rasul Paulus dalam 1 Kor. 13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Milikilah 3 hal ini, niscaya kita akan semakin berkenan dihadapan TUHAN! Amin.
= Mama Rama = 

Kamis, 28 Juni 2018

RAHASIA MEMPEROLEH KEMENANGAN


I Taw. 14:8-17

Setiap orang pasti pernah mengalami peperangan dalam hidupnya! Peperangan tidak selalu identik dengan saling membunuh secara fisik, tetapi juga berbicara tentang perjuangan dalam menghadapi persoalan dalam perjalanan kehidupan!
Kisah Daud melawan Filistin dalam pembacaan diatas memberikan beberpa pelajaran bagi kita untuk memperoleh kemenangan saat berada dalam “peperangan”.
I.      Tidak Menyerah Dengan Keadaan (Ayat 8)
Saat Daud mendengar bahwa orang Filistin ingin berperang melawannya, yang Daud lalukan bukanlah melarikan diri, melainkan ikut maju untuk menghadapi mereka. Daud sadar bahwa dengan melarikan diri atau menghindar dari masalah bukanlah jalan keluar dari masalah itu tetapi hanya akan menambah masalah yang lebih berat lagi. Dalam kehidupan juga harus demikian! Masalah itu ada bukan untuk dihindari, namun harus dihadapi dengan keberanian atau pantang menyerah!

II.    Tidak Gegabah Mengambil Keputusan/ Selalu Bertanya Pada TUHAN (Ay.10)
Saat Daud maju untuk menghadapi tentara Filistin, ia tidak bertindak gegabah! Hal yang dilakukan Daud ialah bertanya kepada Tuhan! Kesadaran Daud bahwa tanpa Tuhan, kemenangan tidak akan ia peroleh. Kesadaran yang sama juga harusnya ada didalam kehidupan kita! Sadar bahwa tanta Tuhan kita takkan pernah mampu menghadapi persoalan hidup kita.

III.  Jangan Pernah Bersandar Pada Pengalaman! (Ay.14)
Pengalaman merupakan guru yang baik untuk memperoleh keberhasilan! Bagi Daud untuk memperoleh keberhasilan adalah bukan tertelak pada pengalamannya berperang waktu mengusir orang Filistin pada tahap awal, namun pada saat ia mendapat arahan Tuhan! Karena itu Daud tidak maju dengan cara yang sama! Yang dilakukannya ialah kembali meminta petunjuk Tuhan. Dan kenyataannya cara Tuhan berbeda dengan cara sebelunya. Dalam menghadapi persoalan seringkali kita memakai pengalaman kita yang lama, tanpa lebih dulu meminta arahan Tuhan, akhirnya gagal, lalu mulai menyalahkan Tuhan. Padahal Tuhan punya cara lain bagi kita untuk membebasan kita, namun kitanya yang malas datang meminta kepada Tuhan. Hari ini kita belajar untuk selalu mengandalkan Tuhan! Diluar Tuhan kita kosong! Amin.
                                                             = Mulyadi Bengkari =

Senin, 07 Mei 2018

“RAHASIA MEMPEROLEH JANJI TUHAN"


Yosua 14:6-15

Dalam kehidupan kekristenan, banyak orang gagal dalam memahami janji Tuhan! Inilah alasan dari sekian banyak orang yang meninggalkan Tuhan, karena menganggap bahwa Tuhan tidak sanggup menepati janji Tuhan. Masalah sebenarnya yang mereka miliki adalah kurangnya persekutuan yang sungguh-sungguh dengan Tuhan.
Tuhan bukanlah hamba yang seenaknya saja diperintah untuk memenuhi kebutuhan kita manusia! Dia adalah Allah yang selalu bekerja dengan rancangan-Nya, dan rancangan-Nya itu jauh melampaui segala rancangan manusia.
Pada bagian ini kita akan belajar dari Kaleb untuk mengetahui rahasia apa saja yang dimilikinya untuk memperoleh janji Tuhan baginya untuk memberikan Hebron sebagai milik pusakanya.

1.          Memiliki Integritas yang Tinggi (Ay.7)
Pada saat Musa mengutus 12 orang dari antara bangsa Israel untuk pergi dan mengintai tanah yang akan diberikan Tuhan kepada bangsa Israel, sepuluh diantaranya pulang dengan membawa kabar yang menggentarkan hati bangsa itu, namun berbeda dengan Kaleb dan Yosua (2 dari keduabelas pengintai). Ayat 7 dalam pembacaan ini menuliskan bahwa Kaleb pada saat itu berkata dengan sejujur-jujurnya! Ini merupakan rahasia pertama untuk memperoleh janji Tuhan!

2.          Mengikuti  Tuhan Sepenuh Hati (Ay.10)
Pada saat ayat 10 ini ditulis, usia daripada Kaleb telah 85 tahun. Pada masa mereka tidak semua orang yang keluar dari Mesir dapat berahan hidup sampai pada tanah Peranjian kecuali Kaleb dan Yosua! Kaleb menyadari bahwa itu semua karena pemeliharaan Tuhan yang sempurna atas kehidupannya.
Selalu ada alasan bagi Tuhan untuk memelihara orang-orang yang dikasihi-Nya! Dan alasan mengapa Kaleb dipelihara oleh Tuhan sehingga Ia luput dari kematian orang-orang sebangsanya dipadang gurun, ialah karena mengikuti Tuhan dengan segenap hatinya! Saat kita merindukan janji Tuhan terealisasi dalam kehidupan kita, hendaklah kitapun sepenuh hati dalam mengiring Tuhan.

3.          Selalu Sabar & Setia (Ay.10)
Dalam ayat 10 juga menuliskan bahwa Kaleb telah menunggu hingga 45 tahun lamanya untuk janji Tuhan tergenapi dalam hidupnya. 45 tahun bukanlah waktu yang singkat, namun Kaleb tetap sabar dan setia!
Terkadang janji Tuhan, Dia berikan segera, namun tidak menutup kemungkinan untuk Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk janji-Nya. Waktu Tuhan bukanlah waktu kita! Ia tahu kapan saat yang tepat untuk menolong kita. Intinya adalah bagaimana kita mau tetap bersabar dan setia dalam menanti.
Yang terpenting dari janji-janji Tuhan buat kita adalah bukan mengenai apa yang menjadi bagian milik kita saat didunia ini. Hal-hal itu memang cukup penting, namun yang paling penting adalah mengenai apa yang akan menjadi milik kepunyaan kita dalam Kerajaan-Nya yang mulia! Amin.

= Obadja Boys =

Selasa, 11 Juli 2017

JANGAN PERNAH MENYERAH



TUHAN tak pernah janji langit selalu biru
tetapi DIA berjanji selalu menyertai
TUHAN tak pernah janji jalan selalu rata
tetapi DIA berjanji berikan kekuatan...

jangan pernah menyerah
jangan berputus asa
muzizat TUHAN ada
saat hati menyembah

jangan pernah menyerah
jangan berputus asa
mujizat TUHAN ada
bagi yang setia dan percaya

TUHAN tak pernah janji langit selalu biru
tetapi DIA berjanji selalu menyertai
TUHAN tak pernah janji jalan selalu rata
tetapi DIA berjanji berikan kekuatan...

jangan pernah menyerah
jangan berputus asa
muzizat TUHAN ada
saat hati menyembah

jangan pernah menyerah
jangan berputus asa
mujizat TUHAN ada
bagi yang setia dan percaya

Senin, 03 Juli 2017

SIAPA MENABUR KASIH, IA MENUAI KASIH




Maz. 126:5-6 "Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dengan sorak sorai... orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih
pasti pulang dengan sorak - sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Jumat, 30 Juni 2017

Sikap Yang Mendatangkan Hukuman Allah


Baca dulu (Pengkhotbah 5:1-7)

Orang mudah mengucapkan sumpah dalam percakapan, pengadilan, janji setia, bahkan ada orang Kristen yang berani bersumpah demi nama Tuhan untuk menutupi kebohongannya atau memperoleh keinginannya.

Sebenarnya, sumpah yang mudah diucapkan berasal dari perkataan berlebihan seperti: ujaran "kotor", sombong, sembrono, fitnah, dll. Kata serupa ini tidak layak diucapkan oleh anak Tuhan sebab mendatangkan hukuman Tuhan (Mat. 12:36-37). Sumpah yang diucapkan dengan menyalahgunakan nama Tuhan demi kepentingan diri menyatakan sikap tidak menghormati Tuhan (Pkh. 5:1-3). Sikap ini dimulai dari hati yang tidak tertuju kepada-Nya (ayat 4:17). Pernahkah Anda membaca tanda peringatan "Awas! Ada anjing galak!" Tanda ini diberikan agar tamu yang berkunjung hati-hati saat masuk rumah itu sebab penghuni rumah memelihara seekor anjing. Cara aman untuk memasuki rumah itu adalah dengan berjalan di samping tuan rumah. Kita pun memerlukan peringatan serupa agar tidak menimbulkan dosa (ayat 5:5). Apabila kita sadar bahwa kita berjalan bersama dengan Tuhan maka kita akan menjadi lebih berhati-hati dengan sumpah, perkataan berlebihan dan semua tindakan (ayat 5:6).

Cara untuk menjaga perkataan dan tindakan kita memperkenan Tuhan adalah berjalan bersama Tuhan. Hiduplah dengan kesadaran penuh bahwa Tuhan melihat dan mengawasi perkataan dan perbuatan kita meskipun Ia tidak hadir secara fisik.

"Alasi tiap perkataan dan tindakan atas pertimbangan yang cermat"

Sabtu, 17 Juni 2017

Tuhan Pertolonganku



Mazmur 121:1-8 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? 
Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 
Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. 
Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. 
TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. 
Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. 
TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. 
TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya. 

Dalam dunia yang penuh tantangan dan ancaman, kita memerlukan pertolongan sejati. Pemazmur menyadari ketiadaan pengharapan baik dari dirinya maupun orang lain. Ia mencoba mengarahkan pandangannya ke gunung-gunung, namun di sana pun ia tidak melihat secercah harapan. Akhirnya pemazmur menyadari dan menyatakan dengan tegas bahwa "pertolonganku ialah dari Tuhan". Ialah Pencipta yang Mahakuasa dan Penjaga yang tidak pernah terlelap. Seringkali kita mencari pertolongan pada sesuatu yang tampaknya mampu menolong, namun pada akhirnya kita harus mengakui bahwa tak ada pertolongan lain selain di dalam Tuhan, Penjamin hidup kita.

Tuhan penjagaku. Dalam keadaan bahaya, sangat dibutuhkan penjagaan ketat. Hal ini sangat terasa di sekitar kita yang saat ini banyak ketidakamanan dan ketidaknyamanan. Dalam lingkungan rumah kita, mungkin diberlakukan jadwal siskamling untuk menjaga keamanan. Harus diakui bahwa tak seorang pun mampu berjaga- jaga sepanjang hari tanpa istirahat. Kita berusaha memiliki tempat perlindungan yang senantiasa siaga, yakni Penjaga Israel, Allah kita. Ia bukan saja mampu bertahan menghadapi bahaya, namun secara aktif melindungi umat-Nya. Tak ada Penjaga lain yang sanggup berjaga-jaga seperti Dia.

#Sumber Santapan Harian 1999

Minggu, 30 April 2017

Kepedulian Terhadap yang Lemah



Teguran Paulus yang keras terhadap penyimpangan yang terjadi di jemaat Galatia pasti akan menghasilkan respons yang beragam. Ada yang disadarkan akan kesalahannya, berdukacita, dan hendak bertobat. Ada pula kelompok orang yang tidak jatuh ke dalam kesalahan tersebut, namun memakai surat Paulus ini untuk menghakimi kelompok mereka yang sudah tersesat.

Paulus tidak ingin ada orang yang bermegah atas kejatuhan orang lain. Justru orang yang tidak jatuh karena rohaninya kuat harus mampu menunjukkan sikap kristiani yang penuh kasih terhadap mereka yang jatuh. Sikap kristiani itu adalah ujud kualitas kekristenan sejati. Pertama, ia tidak akan menghakimi saudara yang sedang jatuh, sebaliknya ia akan mengampuni dan mengangkatnya (ayat 1). Ini adalah sikap yang meneladani Kristus. Kedua, ia menyadari diri juga lemah dan bisa jatuh sehingga akan selalu berjaga-jaga agar tidak jatuh (ayat 3). Dengan kesadaran seperti itu, terbangunlah sikap saling menolong di antara sesama anak Tuhan (ayat 2). Ketiga, ia tidak menilai diri dengan memakai standar manusia melainkan standar Firman (ayat 4-5). Keempat, ia akan rendah hati menerima teguran firman karena kesalahannya dan bersikap hormat kepada yang menegur dengan kasih (ayat 6). Paulus juga terus mendorong supaya orang yang jatuh cepat bertobat karena Allah tidak dapat dipermainkan (ayat 7-8). Akhirnya, Paulus juga menasihati jemaat Galatia agar terus menerus mewujudkan karakter ilahi mereka dengan perbuatan-perbuatan yang baik dan menjadi berkat (ayat 9-10).

Gereja seharusnya menjadi wadah kasih persaudaraan diwujudkan. Ada teguran atas kesalahan, ada pertobatan dari kesalahan yang dilakukan, ada pengampunan untuk orang yang bertobat, dan ada hormat kepada orang yang menegur. Semua itu harus dilandaskan atas kasih Tuhan. Jangan menunggu orang lain, mulailah dari diri Anda.

Jumat, 28 April 2017

“Yesus Jalan Kepada Bapa”


Shalom aleichem..!!!
Mari kita baca renungan hari ini dari Injil Yoh. 14:1-7.

Pernyataan Yesus bahwa Ia akan pergi ke suatu tempat, yang tidak diketahui dan tidak dapat diikuti oleh para murid-Nya, juga peringatan-Nya kepada Petrus bahwa ia akan menyangkal diri-Nya, menimbulkan kegelisahan yang luar biasa di antara mereka (lihat Yoh. 11:33; 12:27; 13:21). Kegelisahan mereka timbul karena mereka tidak dapat memahami misi Yesus dan rencana Allah Bapa. Yesus mendorong mereka untuk percaya pada Bapa dan juga pada-Nya (ayat 14:1).

Pertama, Yesus menegaskan bahwa barang siapa yang mengenal dan percaya kepada Dia, maka ia juga akan mengenal Allah Bapa. Sebab hanya melalui kenal dan percaya pada Yesus, seseorang dapat datang kepada Allah Bapa (ayat 6-7). Yesus menegaskan diri-Nya sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Dia adalah jalan bukan sekadar penunjuk jalan. Dialah yang dapat membawa setiap orang berdosa kepada Allah yang kudus melalui pengurbanan-Nya sendiri. Dia adalah kebenaran bukan sekadar pewarta kebenaran. Kata dan karya-Nya sepenuhnya dapat diandalkan untuk menyelamatkan manusia berdosa. Dia adalah hidup bukan sekadar pemberi hidup. Dialah sumber kehidupan. Itu sebabnya, Dia bisa memberikan hidup bagi orang yang percaya kepada-Nya.

Kedua, Yesus memberitahukan penyebab kepergian-Nya kepada Allah Bapa, yaitu mempersiapkan tempat untuk murid-Nya. Ia juga berjanji kelak akan kembali menjemput mereka (ayat 2-3). Ini merupakan janji eskatologis bagi kita juga bahwa kelak setiap orang percaya akan bertemu dengan-Nya dalam rumah Bapa. Hanya orang-orang yang sungguh mengenal Yesus yang akan menerimanya (ayat 4-5). Janji ini adalah penghiburan dan peneguhan bagi iman kita.

Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan adalah fakta kebenaran Ilahi yang sering sulit diterima oleh banyak orang. Bagaimana dengan Anda? Percayakah Anda bahwa Yesuslah, Jalan kepada Allah Bapa?

Kamis, 27 April 2017

"Alami TUHAN"


Shalom aleichem..

Maz. 34:1-10

Bagaimana meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu baik? Untuk orang-orang yang berpikiran modern, kita bisa mengajukan sejumlah bukti akan kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab, atau yang dapat diperiksa dari kenyataan alam semesta ciptaan-Nya. Namun orang-orang yang dipengaruhi oleh pandangan pascamodern, yang merelatifkan segala kebenaran, tidak butuh pengajaran dan berbagai bukti tertulis. Yang mereka butuhkan adalah pengalaman sebagai bukti.

Mazmur ini mengajak para pembacanya untuk mengalami Tuhan. Alami sendiri kebaikan-Nya (ayat 9) sebagaimana yang telah pemazmur rasakan. Apa yang pemazmur rasakan dan alami? Rupanya mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul, yang hendak membunuh dirinya (ayat 1; lih. 1 Samuel 18-27). Sebagai seorang buronan, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan, dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya (ayat 7). Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia (ayat 8). Bagaikan satpam atau pengawal khusus yang dua puluh empat jam sehari menjaga penuh.

Pemazmur mengajak para pembacanya merespons Tuhan agar pengalaman hidup mereka diperkaya. Mari, pandanglah Tuhan, maka hidup ini akan penuh kesukacitaan (ayat 7). Ayo, takutlah akan Tuhan, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita (ayat 10-11).

Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tak usah menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alami Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek hidup Anda. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup Anda. Saat Anda mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain.

Senin, 24 Oktober 2016

“IMAN YANG DISEGARKAN”

Pembacaan :
Markus 5:25-34
Bila tanaman membutuhkan air untuk dapat bertumbuh, maka iman membutuhkan firman untuk dapat bertumbuh.
Dalam ayat terakhir dari pembacaan ini Yesus katakan: “Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Hal ini beranjak dari kepercayaannya dengan berkata dalam hati, “asal kujamah jubahNya...”.
Hal ini dikatakan olehnya, karena ia lebih dahulu mendengar Firman dari setiap pengajaran yang Yesus sampaikan.
Ada beberapa poin yang harus kita perhatikan, yang membuat ibu ini menjadi sembuh.
1.     Ia mendengar tentang Yesus (Ayat 27)
Banyak orang mendengar tentang Yesus namun tidak percaya bahkan memusuhiNya. Contoh para ahli taurat dan orang-orang farisi. Berbeda dengan perempuan ini! Ketika ia mendengar tentang Yesus, ia menjadi sangat percaya kepadaNya.
2.     Ia berusaha (Ayat 27)
Saat berada ditengah-tengah kerumunan orang, perempuan ini pasti sangat kesulitan untuk mendapatkan Yesus. Namun dengan keterbatasannya (Sedang menderita sakit), wanita ini teru berjuang.
Didalam kehidupan kekristenan terkadang kita berbeda dengan perempuan ini! Saat masalah datang atau saat merasa tidak sanggup lagi yang dilakukan bukannya menyerahkan semua pergumulan kepada Tuhan melainkan berusaha dengan mencari alternatif lain yang justru membuat nya menjauh daripada TUHAN.
3.     Ia Percaya sebelum mengalami (Ayat 28)
Ada banyak orang yang menghindari berbagai hal karena takut sebab belum meihat hasilnya. Namun perempuan ini berbeda. Dia sudah sangat percaya kepada Yesus sehingga dia tahu walau hanya menjamah jubahNya dia pasti sembuh.
Ketika Yesus dikerumuni banyak orang, pasti ada banyak orang sakit diantaranya, dan firman Tuhan menyebutkan bahwa mereka berdesak-desakkan, namun mengapa hanya peremuan ini yang memperoleh kesembuhan? Karena dia lebih dahulu percaya sebelum ia melihat!

Dari tiga hal ini ada 2 hal yang akhirnya terjadi didalam dirinya:
1.     Pendarahannya sembuh seketika (Ayat 29)
2.     Memperoleh keselamatan (Ayat 34)

PERCAYA DENGAN SUNGGUH KEPADA YESUS DAN LIHATLAH BAGAIMANA KUASANYA BEKERJA!

Minggu, 14 Agustus 2016

KEMULIAAN BAPA

Yoh. 17:1-5 (Harus Dibaca dahulu)

Kemuliaan Bapa. Doa adalah ungkapan terjelas dari kondisi hati orang terdalam. Hal ini dapat kita lihat di dalam perumpamaan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-13). Dalam doa-Nya ini terpampang jelas siapa Yesus dalam kesadaran diri-Nya, apa sikap- Nya terhadap Bapa, terhadap para murid-Nya, dan terhadap semua orang yang percaya kepada-Nya. Bagian pertama doa yang sering disebut sebagai “Doa Imam Besar Agung” ini berisi permohonan untuk diri-Nya kepada Bapa.

Betapa akrab dan uniknya hubungan Yesus dengan Bapa tampak dalam beberapa hal. Pertama, Dia menengadah ke surga, menandakan hubungan-Nya yang akrab dengan Bapa. Kedua, Dia menyapa TUHAN sebagai “Bapa” dan menyebut diri-Nya sebagai “Putra-Mu.” Bila kedua hal ini kita gabungkan dengan pernyataan-Nya bahwa Ia sudah memiliki kemuliaan kekal yang dimiliki-Nya bersama Bapa sebelum Ia menjadi manusia (ayat 5), kita dapat menyimpulkan bahwa Ia sedang berbicara tentang hubungan yang sangat unik antara diri-Nya dengan Bapa.

Bahwa dalam bagian ini Tuhan Yesus memohon kemuliaan bagi diri-Nya, tidak dapat kita samakan dengan keinginan manusia yang cenderung mencari kehormatan, kemuliaan, atau penghargaan untuk dirinya sendiri. Kemuliaan yang Yesus minta dari Bapa ada dalam hubungan dengan beberapa kenyataan. Pertama, karena Ia sudah memenuhi rencana Bapa untuk memberi hidup kekal. Hidup kekal adalah mengalami hidup TUHAN. Kita tahu bahwa itu dapat terjadi karena Ia kelak menyerahkan nyawa-Nya dan membuat pengampunan dari TUHAN dan kasih TUHAN untuk orang-orang pilihan-Nya menjadi kenyataan. Itu diwujudkan-Nya bukan saja melalui ajaran-Nya, tetapi juga melalui sikap hidup-Nya dan bahkan di dalam kematian- Nya. Semua itu karya Yesus yang memuliakan dan menyukakan hati Bapa. Kedua, yang diminta-Nya adalah sesuatu yang memang merupakan hak-Nya. Ia adalah Putra yang rela meninggalkan surga menjadi manusia. Maka, yang diminta-Nya ini adalah pengokohan Bapa bahwa semua yang Yesus lakukan berkenan kepada Bapa.

"Agar kita dapat hidup mempermuliakan Tuhan, Yesus rela meninggalkan kemuliaan-Nya".
So,jgn sia2kan pengorbanan Kristus guys...!!! 😉👍

Kamis, 19 Mei 2016

“WASPADA TERHADAP PENGAJARAN SESAT”

“WASPADA TERHADAP PENGAJARAN SESAT”

Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan  Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya. (Ibr. 2:1-4).

Dalam pembacaan diatas, kita melihat dalam ayat pertama dikatakan kita harus beih teliti ketika mendengar sesuatu. Mengapa? Karena kepada setiap orang percaya, Tuhan telah berikan keselamatan itu secara Cuma-Cuma dengan pengorbanan anakNya yang tunggal. Karena itu kita perlu waspada terhadap apa yang kita dengar, karena jangan sampai hal itu mendoktrinasi pikiran kita dengan hal-hal yang menyimpang dari kebenaran firman yang kita pegang teguh sebagai landasan iman kita.
Ada banyak cara setan untuk menjebak orang percaya, salah satunya dengan pengajaran yang seolah-olah benar, namun tidak memiliki dasar Firman yang dapat dipegang. Salah satu contoh seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Kab. Alor , desa pantar Proponsi NTT. Didaerah tersebut ada beberapa persekutuan doa yang terkontaminasi dengan ajaran yang menyimpang, yakni dengan munculnya beberapa orang yang menamakan diri mereka sebagai “laskar Kristus”. Tugas mereka ini adalah menjaga ibadah, dan ketika salah satu anggota mengatakan bahwa ia menadapat “wahyu Tuhan” bahwa ada salah seorang dari anggota persekutuan yang memegang jimat dsb, maka orang tersebut akan mereka pukul hingga babak-belur.
Ajaran-ajaran seperti ini sebenarnya tidak memiliki dasar Firman, karena tidak ada firman yang menjamin hal terebut. Pertanyaannya: mengapa ajaran tersebut bisa masuk? Jawabannya adalah karena tidak memiliki pemahaman Firman yang benar.

Dari pembacaan diatas, Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa firman Tuhan yang kita dengar adalah Firman yang disampaikan Tuhan melalui malaikat, karena itu ketika ada pelanggaran yang dibuat maka akan ada balasan yang setimpal yang akan Tuhan berikan pada siapa yang melanggar. Firman yang Tuhan berikan juga adalah firman yang disertai dengan mukjizat-mukjizat, jadi ketika mendengar firman Tuhan disampaikan, harus diterima dengan sungguh-sungguh karena ada kuasa yang menyertai. Dan apabila kuasa Tuhan menyertai, maka anda tidak mudah untuk terjebak dengan pengajaran-pengajaran yang menyimpang dari kebenaran. Amin.

Selasa, 03 Mei 2016

MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA


“MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA”
LUK. 11:27-29

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau."  Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

Kita semua adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan bahkan sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4). Karena itu sebagai orang-orang pil ihan kita harus bersyukur karena kenyataan bahwa kita adalah orang-orang yang istimewa dihadapan Tuhan.
Dalam injil Lukas, penulis mencatat kata “berbahagialah” sebanyak 16 kali. Dalam prinsip menafsir kalimat yang diulang-ulang merupakan suatu hal yang penting. Dengan kata lain, penulis  injil Lukas ingin menyatakan bahwa “kehidupan yang berbahagia” merupakan hal yang penting. Sebab kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, adalah kehidupan yang sempurna. Dalam kitab Amsal, penulis mengatakan bahwa “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” artinya orang yang selalu hidup dalam kebahagiaan adalah orang-orang yang selalu dalam perlindungan Tuhan.
Bila dihubungkan dengan bagian ini, berdasarkan ayat Firman Tuhan diatas, Tuhan Yesus berkata bahwa yang berbahagia bukan orang yang menjadi ibunya dalam maksud adalah Maria. Tetapi yang berbahagia adalah orang yang medengarkan Firman Tuhan dan memeliharanya. Jadi ukuran untuk menjadi orang yang berbahagia bukan harta benda yang kita miliki, melainkan ketika kita mendengar dan memelihara Firman Tuhan. Karena itu semakin kita mendengar dan memelihara Firman, maka semakin berbahagialah kita.
Memang dalam mengikut Tuhan, kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Artinya ada beban yang juga harus kita tanggung, dan justru saat kita rajin mendengar Firman dan memeliharanya, kita akan mendapatkan banyak janji yang Tuhan berikan didalamnya untuk menguatkan kita saat menghadapi permasalahan kehidupan sehingga kita tidak perlu lagi untuk takut dan putus asa.

Tetaplah berbahagia dan jangan pernah khawatir untuk memikul kuk yang Tuhan pasang, sebab Yesus berkata: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat. 11:30).

Minggu, 01 Mei 2016

“PENDALAMAN ALKITAB” SABAR, KESABARAN, PANJANG SABAR

“PENDALAMAN ALKITAB”
SABAR, KESABARAN, PANJANG SABAR
(Ibrani erekh, Yunani makrothumia).
Sumber : Ensiklopedi Alkitab


I. Sifat Allah Yg Panjang Sabar
Sifat ini bukanlah kepasifan, tapi penguasaan atau pengekangan ataupun pengendalian diri Allah menghadapi perlawanan dan hal-hal lain yg menimbulkan amarah-Nya. Sifat ini hampir selalu dikaitkan dengan sifat kasih sayang dan kemurahan Allah terhadap orang berdosa dan pemberontak, yg sebenarnya patut kena murka-Nya. Tanda perlindungan diberikan-Nya kepada Kain (#/TB Kej 4:15*), pelangi (#/TB Kej 9:11-17*; bnd #/TB 1Pet 3:20*), berkali-kali Israel yg durhaka itu dipulihkan kembali (#/TB Hos 11:8-9*), diselamatkan-Nya Niniwe (#/TB Yun 3*), pembelaan Yesus yg berulang-ulang atas Yerusalem (#/TB Mr 12:1-11*), penundaan kedatangan Kristus yg kedua kalinya (#/TB 2Pet 3:9*),  —  semuanya itu adalah ungkapan dari panjang sabar Allah. Kesabaran Allah adalah ‘pemberian tempat dan waktu bagi manusia dengan maksud tertentu’ (Barth). Panjang sabar Allah adalah kesempatan yg diberikan untuk bertobat (#/TB Rom 2:4*; #/TB 2Pet 3:9*), dan doa dapat memperpanjang kesempatan ini (#/TB Kej 18:22* dab; #/TB Kel 32:30*; #/TB 1Yoh 5:16*).

II. Kesabaran Manusia
Dalam Ams sifat ini paling dipuji; karena sangat berharga dalam praktik hidup untuk menghindari perselisihan, juga dalam menertibkan perkara-perkara dunia dengan bijaksana, terutama jika terlibat dalam hal-hal yang menimbulkan amarah. Orang Kristen wajib menunjukkan kesabaran seperti kesabaran Allah, dalam hubungan satu sama lain (#/TB Mat 18:26,29*; #/TB 1Kor 13:4*; #/TB Ef 4:2; 1*.Tes #/TB Ef 5:14*), sebab panjang sabar adalah salah satu dari buah Roh Kudus (#/TB Gal 5:22*). Kesabaran dalam hubungan dengan sesama harus sesuai dengan kesabaran (Yunani hupomone) dalam menghadapi penderitaan dan cobaan (#/TB Rom 5:3*; #/TB 1Kor 13:7*; #/TB Yak 1:3; 5:7-11*; #/TB Wahy 13:10*). Kesabaran yg menyerupai kesabaran Yesus ini (#/TB Ibr 12:1-3*) adalah karunia ilahi (#/TB Rom 15:5*; #/TB 2Tes 3:5*). Orang Kristen yg bertahan sampai akhir karena kesabarannya, akan selamat atau memperoleh hidupnya (#/TB Mr 13:13*; #/TB Luk 21:19*; #/TB Wahy 3:10*).


Selasa, 29 Maret 2016

YESUS MENAMPAKAN DIRINYA

http://pdkristusalfaomega.blogspot.co.id/
YESUS MENAMPAKAN DIRINYA
Mark. 16:9-20

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Pada bagian ini ketika Tuhan Yesus menampakan diri mula-mula kepada Maria Magdalena, lalu kemudia Maria pergi dan menceritakan kepada murid-murid yang lain, mereka tidak percaya. Mungkin karena mereka masih berkabung, sebab seorang guru besar yang begitu berpengaruh dalam kehidupan mereka harus mati ditangan orang-orang berdosa. Atau mungkin mereka masih dalam keadaan kelemahan iman sebab mereka harus melihat bagaimana guru mereka harus menderita dianiaya oleh para tentara Romawi, dan bahkan mati tergantung dikayu salib. Sehingga mereka merasa bahwa itu merupakan hal yang tidak masuk akal kalau orang yang baru mati didepan mata mereka, menampakan diri sebagai orang yang hidup.
Hal yang sama terjadi ketika Yesus menampakan diri lagi pada dua orang pada jalan menuju Emaus, mereka tetap tidak percaya. Bahkan dibagian lain menceritakan bagaimana salah seorang murid, yakni Tomas mengatakan bahwa sebelum ia tidak akan percaya sebelum ia mencucukan jarinya pada lambung Yesus yang tertikam, hanya saja pada bagian ini tidak menceritakan kisah tersebut.
Ketika mereka masih berdebat dalam ketidakpercayaan mereka, Yesus datang dan menampakan diri kepada mereka, dan mencela ketidakpercayaan mereka. Ada banyak orang percaya yang meninggalkan iman mereka hanya karena belum melihat suatu tanda atau mukjizat yang mereka nantikan. Orang-orang seperti ini sebenarnya belum begitu mengalami Tuhan dalam kehidupan mereka.
Bagian berikutnya, setelah Yesus menampakan diriNya kepada mereka semua, Ia memerintahkan kepada mereka untuk memberitakan injil kepada segala makluk. Perintah ini sebenarya bukan hanya bagi murid-murid pada saat itu saja! Perintah ini juga ditujukan pada kita semua orang percaya sebab firmaNya berkata “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: ...” (Ayat 17).
Mungkin ketika hendak melakukan penginjilan kita merasa malu, takut, dan sebagainya. Tetapi bagian firman dalam ayat 17-18 (Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh), menguatkan kita semua. Tugas kita hanya melakukan apa yang Tuhan perintahkan, untuk selanjutanya adalah tugas Tuhan.

Tetap percaya dan andalkan TUHAN selalu!!!! TUHAN Yesus memberkati kita semua. Amin.

PETRUS MENYANGKAL YESUS

PETRUS MENYANGKAL YESUS
Markus 14:26-31

“Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.  Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." Kata Petrus kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lain pun berkata demikian juga”.

Yesus memberikan gambaran kepada murid-muridNya bahwa suatu saat bahwa Ia akan memukul gembala-gembala. Dan hal itu akan membuat iman mereka tergoncang.
Tetapi yang Ia maksud sebagai gembala adalah Ia sendiri, makanya Petrus dengan percaya diri mengatakan bahwa ia tidak akan menyangkal Yesus, sebab ia tidak percaya bahwa Yesus sebagai gembala akan mengalami nasib seperti itu. Apalagi ia mengenal siapa Yesus. Ia tahu bahwa Yesus adalah seorang yang sanggup melakukan banyak mukjizat, sehingga tidak terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menyangkal Yesus.
Terkadang sadar atau tidak sadar kita juga sering menyangkal Yesus dalam kehidupan kita. Terkadang kita sering berkata “saya mau iring Yesus selamanya, sekaipun harus mati untuk Yesus” namun pada kenyataannya kita sering menyakiti hatiNya.
Mengikut Kristus, sama halnya dengan ketika seorang mengambil seorang Istri atau suami. Ia harus lebih dulu mengenal pasangannya dengan baik baru mengambil langkah untuk menikah. Artinya ketika kita berkata “Aku mau mengikut Yesus selamanya” maka sebaiknya kita harus mengenal Yesus dengan baik.
Ketika Petrus menyatakan bahwa ia tidak akan menyangkal Yesus, ia sebenarnya beranggapan bahwa Yesus sanggup menolong dia kapanpun. Namun ketika ujian sesungguhnya datang kepadanya, yakni saat ia melihat orang yang begitu luar biasa dihadapannya harus menderita. Imannya menjadi goyah terhadap Yesus, sehingga akhirnya iapun menyangkal Yesus.
Peristiwa lain yang terjadi setelah penyangkalan Petrus, ia berbalik kepada TUHAN dan memohon pengampunan. Dan TUHAN mengampuni dia. Ini menunjukan bahwa sebesar apapun kesalahan kita TUHAN maha pengampun. Sebab rancangan TUHAN adalah rancangan yang penuh damai sejahtera dan bukan kecelakaan. Namun kadang kitalah yang membuat rancangan kecelakaan terhadap diri kita sendiri.

Sekarang apa yang menjadi pilihan kita? Mau kembali seperti yang Petrus lakukan atau tetap tinggal dalam keadaan kita sekarang. Amin.

Selasa, 08 Maret 2016

MENDERITA BERSAMA KRISTUS

Pembicara : Bpk. Jeuli Selly
Editor : Ev. Benyamin Ludji Riwu, S.Th

MENDERITA BERSAMA KRISTUS
LUKAS 23:8-12
“Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia, lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda. Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apa pun. Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia, ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan”.


Saat ini kita sedang berada pada minggu sengsara yang kelima. Saat dimana orang-orang percaya merenungkan kebaikan TUHAN, dimana Bapa di Surga memberikan anak-Nya yang tunggal, yakni TUHAN Yesus Kristus sebagai korban penebusan bagi kita (Yoh. 3:16).
Sama halnya dengan dosa masuk mulai dari 1 orang yakni Adam, demikian juga Kristus datang sebagai 1 orang yang membawa keselamatan bagi kita orang percaya. Ketika kita percaya dengan sungguh-sungguh kepada Dia (Kristus), maka keselamatan dari TUHAN akan ada di pihak kita. Disamping keselamatan ada banyak bonus yang TUHAN berikan buat setiap kita yang benar-benar percaya.
Contoh : Kesaksian Hamba TUHAN.
“Beberapa waktu yang lalu, beberapa pemuda mabuk melempari rumah saya dengan batu. Secara manusia, saya pasti marah. Namun saat itu TUHAN ingin melihat kesabaran saya, bahkan salah satu pemuda sebagai perantara datang kepada saya dan berkata bahwa salah seorang temannya tidak mau datang dan beribadah lagi ditempat saya. Saat ini saya katakan : tidak apa-apa karena TUHAN akan menggantikan yang satu itu dengan sepuluh orang baru. Dan puji TUHAN, hal tersebut terjadi pada ibadah minggu berikut”.
Dari kesaksian ini, ada pelajaran penting buat kita, yakni disaat kta bersandar dengan sungguh-sungguh kepada TUHAN, maka Ia akan menunjukan kuasa-Nya bagi kita.
Dalam bacaan Firman TUHAN ini, kita membaca, bahwa Herodes sangat senang ketika orang-orang membawa Yesus kepadanya. Apa penyebabnya? Penyebabnya ialah karena selama ini ia hanya mendengar tentang Yesus yang melakukan banyak mukjizat. Tetapi karena tidak ada kebenaran didalamnya, ia pun mengolok-olok TUHAN Yesus didepan banyak orang.
Pelajaran dari kisah ini: Saat Yesus diolok-olok oleh mereka, Ia tidak pernah menaruh dendam kepada mereka. Bagaiaman dengan kita orang percaya? Terkadang kita juga mengalami hal yang sama! Mungkin saat kita sedang beribadah, lalu kemudian orang-orang diluar mencemooh kita. Saat seperti itu, apakah kita akan membenci mereka? Bila kita membenci mereka, maka kita sama halnya dengan mereka! Yang TUHAN mau, kita melakukan hal yang sama dengan apa yang TUHAN lakukan.
Perhatikan Firman TUHAN! Ayat 1 “Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang...”. Herodes begitu ingin melihat bagaiamana Yesus membuat mukjizat. Namun ketika Yesus tidak menjawab pertanyaannya, iapun mulai kesal. Ditambah lagi karena tuduhan dari orang-orang farisi dan alhi taurat membuat dia bersama pasukannya menista Yesus.
Dalam kekristenan ada banyak orang “Kristen” yang sifatnya seperti Herodes! Mereka sangat senang kepada TUHAN Yesus hanya karena ingin melihat mukjizat dan pertolongan-pertolongan TUHAN yang ajaib. Namun ketika mukjizat itu belum terjadi dalam hidup mereka, mereka meninggalkan iman mereka, atau bahkan menjadi penista-penista Kristus.

Sebab itu, sebagai anak TUHAN, hendaklah kita menderita bersama dengan Kristus dengan tetap beriman kepada-Nya tanpa ragu-ragu. Jangan mengikut TUHAN karena keinginan daging kita, tetapi ikutlah TUHAN karena Ia telah menderita bahkan mati untuk kita semua. Ikut menderita bersama TUHAN artinya adalah tetap mengampuni sama seperti Yesus mengampuni orang-orang yang menista, meludahi, menyiksa Dia dengan berkata kepada Bapa saat berada dikayu salib “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!”. Amin.

Minggu, 06 Maret 2016

Ilustrasi "Cerita 3 Pemuda"


Di sebuah kafe di daerah bilangan Jakarta Barat ada 3 orang pemuda yang sedang mengobrol santai. Dengan minuman pesanan mereka yang baru saja datang ke meja mereka, ketiga pemuda ini dengan asyik meneruskan pembicaraan mereka yang sempat terhenti.
Hingga tibalah pada satu pertanyaan yang ditanyakan oleh salah satu dari mereka. Merasa kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh temannya, kedua pemuda tersebut dengan senyum kecil mencoba berpikir tentang jawaban yang masing-masing hendak mereka keluarkan.
Saatnya mereka memberikan jawaban, tidak terkecuali temannya yang memberikan pertanyaan tersebut. Pemuda pertama berkata, "Saya sendiri masih bingung menjawab pertanyaan ini, sungguh saya tidak tahu jawabannya." Lalu Pemuda kedua memberikan jawabannya, "Saya pun sama seperti dia, tidak tahu harus memberikan jawaban apa." Sampailah sekarang giliran pemuda ketiga yang memberikan jawaban, dengan penuh percaya diri dia menjawab, "Saya awalnya pun pertama kali tidak tahu jawabannya, akan tetapi sekarang saya bisa menjawab bahwa saya kagum kepada mereka".
Saudara pasti penasaran, pertanyaan apa yang dilontarkan pemuda tersebut kepada dua temannya. Pertanyaan yang Saudara pun bisa menjawabnya, yakni "Apa yang akan Saudara katakan kepada mereka yang sedang berjuang walaupun mereka memiliki keterbatasan fisik di tubuh mereka???"

Sungguh tiada manusia yang dapat berkata dia sudah sempurna karena setiap kita diciptakan tidak sempurna. Hal itu dilakukan Tuhan agar manusia tahu bahwa semua manusia berharga di hadapan-Nya.

Senin, 22 Februari 2016

DOA BAPA KAMI (DATANGLAH KERAJAAN-MU) Part II

DR. Erastus Sabdono
DOA BAPA KAMI
(DATANGLAH KERAJAAN-MU)
Matius 6:10  datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
DAMAI SEJAHTERA.
Roma 14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Prinsip berikut dari Kerajaan Allah adalah Damai Sejahtera. Damai sejahtera dalam bahasa asli disebut (eirene – Yun) TUHAN Yesus pernah bersabda kepada murid-muridNya di dalam Injil Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.". Damai sejahtera yang diberikan TUHAN adalah damai sejahtera yang melampaui segala akal (Bandingkan Filipi 4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus). Yang tidak dilampaui segala akal tidak dapat dijelaskan, tetapi harus dialami.
Damai TUHAN itu luar biasa; makanya kita tidak boleh damai karena kita mempunyai ini dan itu. Dengan merasa damai oleh harta duniawi, berarti kita memberhalakan sesuatu, sebab orang yang mrncintai dunia berarti menyembah iblis.

Harap dibedakan antara keinginan dan kebutuhan. Punya keinginan tidak salah, tetapi apabila kita berkata “Datanglah KerajaanMu” berarti keinginan kita harus disalibkan lalu kehendak Allah harus disalin kedalam hidup kita. Apabila kita tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, maka hidup kita bisa rusak. Sering kita gagal disini, sebab kita belum sempurna dan masih harus belajar. Ingat, iblis memberi apa yang manusia ingini, tetapi TUHAN memberi yang terbaik. Kita mau pilih yang mana?